Wawancara Mario Irwinsyah dan Revalina S. Temat: Konflik Tanpa Antagonis

6 months ago 5

AKTOR Mario Irwinsyah dan Revalina S. Temat menceritakan pengalaman berbeda mereka ketika bermain dalam movie The Sun Gazer: Cinta dari Langit. Keduanya sepakat bahwa play religi yang diangkat dari kisah nyata ini berbeda dari film-film Indonesia bertema rumah tangga sebelumnya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

The Sun Gazer: Cinta dari Langit diangkat dari sepenggal cerita yang tertuang dalam caller berjudul Sang Penatap Matahari karya M. Gunawan Yasni. Film produksi Warna Pictures ini disutradarai oleh Jastis Arimba. Selain dengan Revalina S. Temat, Mario Irwinsyah juga beradu akting dengan istrinya, Ratu Anandita.

Film ini mengisahkan tentang Mogayer (Mario Irwinsyah) dan Asiyah (Ratu Anandita) telah membangun rumah tangga bahagia selama bertahun-tahun. Namun, kebahagiaan mereka terasa kurang lengkap karena belum dikaruniai keturunan. Berbagai cara telah ditempuh, hingga Mogayer harus menerima kenyataan bahwa ia tak akan pernah bisa menjadi seorang ayah.

Poster movie The Sun Gazer: Cinta dari Langit. Foto: Instagram.

Mogayer merasa harus mengambil keputusan untuk menceraikan Asiyah agar tak menjadi beban bagi perempuan yang sangat dicintainya itu. Hal ini dilakukan Mogayer karena ia tahu betul bahwa Asiyah sangat ingin memiliki anak. Setelah sempat menentang, Asiyah akhirnya menyetujui keputusan itu meski keduanya masih saling mencintai. Setelah berpisah dengan Aisyah, Mogayer bertemu dengan Aisha (Revalina S Temat), desainer interior yang membantu merapikan apartemennya. Di waktu yang hampir bersamaan, Mogayer berjumpa dengan Maria (Elvira Alminity), yang mau menerima semua kekurangannya. Mogayer dihadapkan dengan dua pilihan dan kebimbangan tidak bisa memberikan keturunan.

Film The Sun Gazer: Cinta dari Langit tayang di bioskop mulai Kamis, 21 Agustus 2025. Dalam wawancara bersama Tempo pada Rabu, 20 Agustus 2025, Mario Irwinsyah dan Revalina S. Temat membagikan pandangan mereka mengenai movie ini. Rasa penasaran menjadi salah satu alasan mereka tertarik membintanginya.

Bisa diceritakan tentang movie The Sun Gazer: Cinta dari Langit?

Revalina: Ini kisah nyata. Orang aslinya ada. Alhamdulillah kami juga bisa bertemu dan bisa mempelajari beliau. Alasan aku mengambil movie ini karena ini kisah nyata yang beda dari yang lain. Kalau kisah percintaan biasa ya banyak. Tapi kalau kisah beliau ini itu luar biasa. Aku melihatnya, kalau aku ada di posisi beliau kayaknya aku enggak siap deh. Tapi kok bisa ya beliau maju terus? Dan ya enggak apa-apa. Itu bukan masalah buat beliau. Aku sih ilmunya kayak belum sampai ya ke situ.

Apa yang pertama kali membuat Anda tertarik?

Mario: Pertama, 80 persen cerita ini semuanya kenyataan, 20 persennya dramatisasi. Tapi yang paling bawah kenapa aku ambil karena ini adalah, selain kisah nyata, ini adalah play yang beda dari seluruh play Indonesia yang pernah aku tampilkan. Semua play itu tentang pemilikan. Semua play itu tentang menang/kalah. Tapi kalau ini itu enggak. Ini beda. Tapi selain beda, ini selfless love (cinta tanpa pamrih). Ketika kita selfless pasti semuanya akan baik-baik saja.

Pemeran movie The Sun Gazer: Cinta Dari Langit, Revalina S. Temat dan Mario Irwinsyah ketika wawancara di kantor Tempo, Jakarta, 20 Agustus 2025. Tempo/Fardi Bestari

Film ini tentang keikhlasan ya?

Mario: Satu poin dari beberapa poin. Tadi kami di podcast juga berani bilang kayaknya belum pernah ada movie Indonesia yang nyawanya kayak gini.

Revalina:  Di sini semua pemainnya protagonis. Enggak ada yang antagonis. Dibilangnya movie paling saleh-salihah. Di sini enggak ada orang jahatnya. Semuanya baik, tapi tetap ada konflik. Biasanya satu movie itu kan pasti ada yang baik, ada yang jahat. Di sini enggak. Tapi tetap bisa ada konflik dan tetap bisa dinikmati filmnya. Makanya kenapa kami ambil movie ini dan memang kami yakin banget di Indonesia baru ini deh movie yang enggak ada pemeran antagonisnya.

Di aku, (ceritanya) enggak masuk akal. Kok bisa sih? Jadi benar-benar penasaran. Aku pengin nanya ke beliau, kenapa sih mbak?

Mario: Kami biasa sama pemain kalau sudah nonton itu kami melupakan apa yang pernah kami lakukan di lokasi syuting. Pas lagi nonton, ini kisah nyata lagi. Terus teman-teman sebelah kami yang kayak baru sadar, mungkin dia datang terlambat atau enggak baca, "hah ini kisah nyata? Buset."

Menariknya dari screening kami semua kemarin itu setiap orang punya pemahamannya masing-masing. Jadi banyak hal juga yang enggak kepikiran sama kami. Setelah kami lihat testimoni mereka tuh bahwa benar kan? Kayaknya kami enggak salah pilih ini. Karena memang semua orang punya pemahamannya masing-masing. Dan itu bisa jadi bahan refleksi buat yang keluarganya bermasalah. Insya Allah bagus banget nonton ini. Apalagi enggak bermasalah. Kalau yang bermasalah tuh jadi mungkin bisa lebih bersyukur, bisa lebih berkaca lagi, lebih menjalin lagi. Yang belum berkeluarga juga bisa nonton. Yang mau berkeluarga bisa nonton.

Itu pesan yang ingin disampaikan dalam movie ini?

Mario: Pesannya itu banyak. Ini berasal dari caller yang 470 sekian halaman, dan kami hanya mengambil sejumput. Enggak sampai 60 halaman, tapi jadi film. Dan ini bukan konflik yang paling besarnya. Kami sudah sempat dengar ya, mungkin akan ada sekuelnya. Tapi kami lihat dari yang pertama ini. Karena ini yang paling renyah. Ketika orang memahami ini bisa paham bagian-bagian lainnya.

Pemeran movie The Sun Gazer: Cinta Dari Langit, Revalina S. Temat (kiri) dan Mario Irwinsyah ketika wawancara di kantor Tempo, Jakarta, 20 Agustus 2025. The Sun Gazer: Cinta dari Langit menceritakan perjalanan pernikahan Mogayer dan Asiyah yang bahagia, namun belum dikaruniai keturunan. Film ini rencananya akan ditayakan di bioskop pada 21 Agustus 2025. Tempo/Fardi Bestari

Bagaimana Anda melakukan pendalaman karakter?

Revalina: Alhamdulillah aku bisa ketemu sama tokoh aslinya yang ada di caller ini. Jadi suatu waktu aku janjian datang ke rumahnya. Kebetulan rumahnya dekat banget sama rumahku cuman 7 menit. Terus beliau cerita dari awal sampai aku tanya "bagaimana mbak kebiasaannya? Apa sih yang biasa dilakukan?" Sampai beliau juga bingung. Nanya ke suaminya. "Apa ya?" 

Aku perhatikan caranya ngomong dan gesturnya. Dan aku tanya latar belakangnya. "Kenapa sih mbak kok bisa? Kok mau sih?" Sampai aku juga enggak kepikiran, bisa ada ya orang setulus ini, seikhlas ini. Alhamdulillah sekarang mereka baik-baik saja, punya anak susu yang sekarang di asuh bersama. Sama ibu kandungnya dan bapak kandungnya juga. Jadi hubungannya harmonis banget.

Apa tujuan Anda bermain movie ini?

Mario: Kalau aku justru simpel banget. Setiap orang itu butuh referensi yang berbeda. Contohnya gini, anak kecil yang tidak pernah makan cokelat, enggak akan pernah merengek minta cokelat. Nah kalau film-film, tayangan semuanya horor, pelakor, bagaimana rumah tangga Indonesia mau baik ke depannya. Semudah itu kan? 

Kita juga kalau nonton horor sebenernya, coba deh anak-anak tuh takut biasanya tempat gelap? Enggak. Tapi giliran ditakutin "awas loh ini" jadi takut dan menangis. Nah sama semua tontonan ini juga kayak gitu. Jadi harapan aku ya, kalau mungkin bisa dibilang semua movie yang tayang hari ini tuh steak. Orang pengin sekali-sekali makan nasi goreng. Atau pengin makan ikan asin. Nah biarkan walaupun ini cenderung ikan asin, tapi referensi yang berbeda. Aku berharap ini bisa jadi tontonan yang, atau bahkan jadi question baru, bahwa bisa kok bikin movie narasi lagi, narasi positif.

Revalina: Aku juga simpel. Aku masih kagum dengan Beliau. Sesimpel itu saja. Zaman sekarang enggak ada orang yang kayak Beliau. Yang cara pemikirannya, dan keluarganya itu mendukung. Kan Beliau bilang, "ya aku sudah konsul juga sama mamaku. Aku tanya, bagaimana?" Kayaknya kalau sebagai seorang ibu, punya anak enggak punya cucu, sedih enggak sih? Kayaknya mengharapkan anak tuh kalau menikah untuk kasih cucu dong. Tapi ini enggak. Enggak ada tuntutan apa-apa yang kayak, "bagaimana dong dia enggak bisa kasih aku anak, enggak usah lah." Normalnya orang tua. Tapi ini kan enggak. 

Yang aku suka dari cerita ini, dan akhirnya aku mau untuk memainkan ini, dan menurut aku juga enggak perlu alasannya bagaimana-bagaimana, karena dari situnya aja sudah kuat. Dari cerita mereka berdua, Beliau ini tuh sudah Masya Allah. Jadi kayak inspiratif banget sih.

Mario: Jadi tadinya peran ini bukan diperentukan untuk kami. Ada pemain yang aku enggak bisa sebut namanya, itu ceritanya mirip. Tapi akhirnya mereka enggak sampai hati. Dan si pemain itu juga enggak mengambil karena khawatir memicu fitnah, memicu pembahasan yang sudah lewat jadi panas lagi. Dan akhirnya sutradaranya juga memperhatikan, artinya peran Mogayer dan Asiyah itu ada adegan-adegan yang memang dia suami istri selayaknya: peluk, nangis, dan segala macam. Si sutradaranya mau sampai ke level itu pun tetap dijaga kemahromannya.

Jadi kalian engga ada adegan kontak fisik?

Revalina: Ada cuman kayak seolah-olah tangan kami bersentuhan, terhalang meja. Tapi kita yang benar-benar enggak bersentuhan sama sekali dan ternyata bisa loh.

Bagaimana mempersiapkan adegan memanah dalam movie ini?

Mario: Di caller aslinya memang ada hobi yang bareng, cuman memang panahan itu dilakukan sama Mogayer  aslinya. Karena dia kan bermasalah di kaki sehingga dia enggak bisa ikut lomba lari, tapi kan tetap harus menjaga kebugaran.

Revalina: Kebetulan sebelum adegan itu kami latihan sebelum instrumentality saja dan ternyata menyenangkan sih. Aku pas latihan walaupun besokannya pegel ya, pegel banget dan instrumentality kan enggak sekali atau dua kali, setengah hari ada kali. Jadi ya lumayan dan aku senang banget sih punya pengalaman itu. Mungkin kalau aku enggak main movie itu, aku enggak belajar memanah.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini