NILAI tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan sepanjang pekan keempat Agustus 2025. Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah ditutup pada level Rp 16.340 per dolar AS pada Kamis, 28 Agustus 2025, lebih lemah dibandingkan posisi sepekan sebelumnya yang berada di kisaran Rp 16.280 per dolar AS pada Kamis, 21 Agustus 2025.
Bahkan, pada Jumat pagi, rupiah sempat menembus Rp 16.507 per dolar AS, level terendah dalam beberapa pekan terakhir.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi. Pada Selasa, IHSG ditutup di posisi 7.905,7 atau melemah 0,27 persen dibandingkan hari sebelumnya. Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi hari itu mencapai Rp 45,7 triliun, dengan frekuensi perdagangan 2,3 juta kali dan measurement 56,6 miliar lembar saham.
Berdasarkan information BI, pada periode 19–22 Agustus 2025, rupiah ditutup di level Rp16.280 per dolar AS. Namun, hanya sepekan berselang, pada 25–29 Agustus 2025, rupiah ditutup melemah ke Rp 16.340 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) masih menunjukkan tren penguatan. Pada 21 Agustus, DXY tercatat di level 98,62, kemudian berada di 97,81 pada 28 Agustus. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury (UST) tenor 10 tahun turun dari 4,328 persen menjadi 4,203 persen dalam periode yang sama.
Pergerakan tersebut menandakan adanya aliran dana planetary ke instrumen yang dianggap aman (safe haven), yang membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung tertekan.
Dari sisi domestik, pasar obligasi dan saham Indonesia juga mencatat arus keluar (capital outflow) dari capitalist asing pada pekan terakhir Agustus. BI melaporkan, pada periode 25–28 Agustus 2025, capitalist nonresiden tercatat melakukan jual neto sebesar Rp 0,25 triliun.
Rinciannya, asing melakukan jual neto sebesar Rp 10,79 triliun di instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), meski masih ada aliran masuk berupa beli neto Rp 2,62 triliun di pasar saham dan Rp 7,93 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Jika dihitung sejak awal tahun hingga 28 Agustus 2025, capitalist asing tercatat masih melakukan jual neto sebesar Rp 48,01 triliun di pasar saham dan Rp 94,28 triliun di SRBI. Meski begitu, terdapat kompensasi berupa beli neto sebesar Rp 76,44 triliun di pasar SBN.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah yang cukup tajam pada hari ini disebabkan salah satunya oleh insiden tewasnya seorang pengemudi ojek online akibat dilindas kendaraan taktis brigade mobil atau Brimob dalam aksi demonstrasi Kamis malam, 28 Agustus 2025. Menurut Ibrahim, insiden tersebut membuat tensi politik dalam negeri semakin memanas, setelah sebelumnya masyarakat juga memprotes tunjangan rumah untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
“Carut marut ini membuat pasar sedikit apatis terhadap perpolitikan Indonesia, ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan cukup tajam,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Jumat, 29 Agustus 2025. Dia pun menilai insiden yang menewaskan pengemudi ojek online tersebut bakal membuat aksi demonstrasi terus berlanjut.
Berdasarkan information dari Bank Negara Indonesia (BNI) pada pukul 12.35, pada perdagangan Senin, 1 September 2025, nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap sejumlah mata uang utama dunia antara lain terhadap dolar AS, euro, poundsterling, ringgit Malaysia, dan baht Thailand. Dolar AS pada 1 September 2025 ini tercatat berada pada level jual Rp 16.615,00 per dolar, dan pada pukul 18.15 nilai tiukar rupiah menjadi Rp 16.415.000.
.png)
6 months ago
5










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



