Penyakit Autoimun Sering Terlambat Terdiagnosis

5 months ago 92

DOKTER umum Eka Hospital Pekanbaru Shofiana Nur Islami mengatakan pentingnya deteksi dini untuk penyakit autoimun. “Autoimun sering kali terlambat terdiagnosis karena gejalanya mirip penyakit lain," katanya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada 21 September 2025.

Ia pun mengajak masyarakat untuk mencoba mengenali penyakit autoimun dengan lebih cepat dan segera mendapatkan perawatan terbaik. Salah satu cara meningkatkan kewaspadaan adalah dengan mengenal berbagai gejala dan tanda yang biasanya dirasakan pasien autoimun. "Semakin cepat dikenali, semakin baik pula hasil pengobatannya. Seminar ini adalah langkah penting untuk meningkatkan kewaspadaan,” kata Eka saat memberikan edukasi mengenai gejala, faktor risiko, serta cara penanganan penyakit autoimun.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Penyakit autoimun merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri. Ada lebih dari 80 jenis autoimun, di antaranya lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, hingga scleroderma.
 
Prevalensi lupus diperkirakan mencapai 0,5 persen hingga 1,7 persen populasi, setara dengan lebih dari 1,3 juta orang. Mayoritas penderita adalah wanita usia 15–45 tahun. Secara umum, penyakit autoimun diperkirakan menyerang 5–10 persen populasi Indonesia, atau sekitar 12,5 – 25 juta orang.
 
Kesadaran masyarakat masih rendah, banyak penderita yang tidak menyadari gejalanya karena mirip dengan penyakit lain, sehingga diagnosis sering terlambat. Pasca pandemi COVID-19, beberapa penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kasus autoimun di Indonesia.

Sebelumnya, dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit autoimun, Holywings Peduli bekerja sama dengan Eka Hospital Pekanbaru menggelar seminar kesehatan di Livehouse Pekanbaru pada Minggu, 21 September 2025. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 150 peserta dari berbagai kalangan yang antusias ingin mengetahui lebih dalam tentang penyakit autoimun yang belakangan semakin banyak dijumpai di masyarakat.
 
Menurut Alodokter, secara mean sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri atau virus. Ketika terserang organisme asing, sistem kekebalan tubuh akan melepas macromolecule yang disebut antibodi untuk melawan dan mencegah terjadinya penyakit.

Akan tetapi, pada penderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh menganggap sel tubuh yang sehat sebagai zat asing. Akibatnya, antibodi yang dilepaskan sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat tersebut.

Ada beberapa penyebab penyakit autoimun yang belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit autoimun. Beberapa di antaranya adalah memiliki riwayat penyakit autoimun dalam keluarga. Ada pula alasan menderita infeksi bakteri atau virus, misalnya infeksi microorganism Epstein Barr. Selain itu, terkena paparan bahan kimia, seperti asbes, merkuri, dioksin, atau pestisida juga menjadi penyebab autoimun. Kegiatan merokok dan memiliki berat badan berlebih dan obesitas juga mempengaruhi imun seseorang. 

Ada pula gejala penyakit autoimun. Beberapa penyakit yang biasa disebut 'Penyakit dengan Seribu Wajah' ini memiliki gejala awal yang sama, seperti sering merasa lemas. Lalu ada otot pegal atau nyeri sendi, ruam kulit, demam yang hilang timbul. Lalu ada pula bengkak di sendi atau wajah, rambut rontok, hingga sulit konsentrasi. Ada pula gejala kesemutan di tangan atau kaki. Penting sekali agar masyarakat segera mencari bantuan ahli serta pengobatan bila melihat berbagai gejala tersebut. 

Ketua Program CSR Holywings Peduli berharap agar kesadaran soal autoimun bisa diketahui sejak dini. “Kami harap seminar ini meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara kesehatan sejak dini, sehingga pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan tepat,” ujar Andrew Susanto.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini