kabartuban.com – Suara riuh tawar-menawar yang biasanya mewarnai Pasar Baru Tuban kini berganti menjadi keluhan. Alih-alih ramai pembeli, pasar yang menjadi denyut nadi ekonomi rakyat itu semakin sepi. Para pedagang lebih banyak duduk bersandar di kios, menunggu dengan sabar pembeli yang tak kunjung datang.
Sejak Januari 2025, tarif retribusi kios naik hingga dua kali lipat. Ironisnya, kenaikan tersebut tidak diiringi peningkatan fasilitas pasar. Di saat yang sama, daya beli masyarakat justru merosot. Pedagang pun kian terhimpit.
“Dulu saya bayar Rp33.600, sekarang jadi Rp84 ribu per kios. Kenaikan ini benar-benar mencekik, Mas. Wong yang dulu aja sudah berat, apalagi sekarang,” keluh seorang pedagang pakaian yang sudah lebih dari 20 tahun menggantungkan hidup di pasar itu.
Ia mengaku kini hanya bisa menjual satu hingga empat potong baju per hari. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, tak satu pun barang dagangannya laku. Padahal, dulu ia bisa menjual sepuluh potong baju dalam sehari.
Asri Ningsih, pedagang lain, menilai kenaikan tarif seharusnya dilakukan bertahap.
“Kalau langsung melonjak begini ya jelas memberatkan. Mestinya bertahap, biar tidak mengagetkan pedagang,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Rusmia. Wanita yang akrab disapa Mia itu bahkan sempat mencoba berjualan secara daring. Namun, usaha tersebut tak berjalan mulus.
“Saingannya banyak, kalah sama baju kekinian. Kalau di pasar kan biasanya pembelinya ibu-ibu, tapi sekarang sepi sekali,” tuturnya.
Mia bersama beberapa pedagang lain pernah mengajukan protes atas kenaikan retribusi tersebut. Sayangnya, hingga kini belum ada solusi konkret.
“Kami butuh jalan keluar yang adil. Setidaknya pemerintah bisa memikirkan cara agar pasar kembali ramai,” katanya penuh harap.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kabupaten Tuban, Gunadi, belum memberikan tanggapan atas keresahan pedagang Pasar Baru.
Kini, keluhan itu masih menggantung tanpa jawaban. Di tengah kios-kios yang kian sepi pembeli, para pedagang hanya bisa berharap pemerintah segera turun tangan sebelum denyut nadi perdagangan rakyat benar-benar padam. (fah)
.png)
6 months ago
8
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-ayah-dan-anak-ilustrasi-ayah-dan-putri-asdfv.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/PENISTAAN-AL-AQSA-Perdana-Menteri-Israel-Benjamin-Netanyahu.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Sidang-putusan-MK-Mahkamah-Konstitusi-uji-materi-UU-Polri-aktif-Polri-pada-jabatan-sipil.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/seminar-Dewan-Pengurus-Nasional-DPN-Gerbang-Tani.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/oreshnik-kajs.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/aborsi-ilegal-skd.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Iko-Uwais-1-30092025.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/EMAS-PERDANA-Pelari-jarak-jauh-Indonesia-Robi-Syanturi.jpg)


/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



