Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian, Khudori, mengkritik metode penyerapan gabah dan penyaluran beras yang belum stabil di Indonesia. Menurut dia, terdapat stok beras yang sangat melimpah di gudang milik Perusahaan Umum Bulog dan kemudian berpotensi terjadi penurunan mutu. “Stok beras akhir tahun yang besar menimbulkan konsekuensi. Ada risiko turun volume, turun mutu dan bahkan rusak,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Tempo pada Ahad, 7 September 2025.
Khudori menyebut, Bulog telah menyerap beras produksi petani sebesar 3 juta ton. Ia mengapresiasi kemampuan ini karena telah memecahkan rekor stok beras terbesar sepanjang sejarah. Namun demikian, kata dia, kondisi ini membuat beras menumpuk di gudang karena tidak ada kepastian penyaluran akibat pengalihan anggaran perberasan tahun ini.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Adapun per 20 Agustus 2025, Bulog menyimpan stok beras 3,1 juta ton. Sebanyak 194 ribu ton di antaranya telah disimpan lebih dari satu tahun. Stok ini terdiri atas 165 ribu ton beras impor dan 29 ribu ton beras dalam negeri. Selain itu, ada 993 ribu ton beras berusia 7-12 bulan, 1,33 juta ton berusia 4-6 bulan, 1,06 juta ton berusia 2-3 bulan, dan 318 ribu ton berusia simpan 0-1 bulan.
Khudori menyebut, jika people penyaluran SPHP 1,3 juta ton dari Juli hingga Desember 2025 tercapai dan 366 ribu ton bantuan pangan beras tersalurkan semua, hal ini masih menyisakan banyak stok beras di Bulog pada akhir tahun ini. Ia memproyeksikan sisaan stok beras itu bisa mencapai 2,684 juta ton. “Ini jumlah yang amat besar,” ucap Khudori.
Menurut Khudori, beras penyerapan dari gabah segala kualitas atau any quality di tahun ini hampir bisa dipastikan kualitasnya tidak bagus. Beras seperti ini, kata dia, tidak mungkin disimpan berlama-lama. Walhasil prinsip FIFO atau First-In First-Out tidak bisa diterapkan secara kaku. “Bisa jadi beras yang belum berusia empat bulan harus disalurkan karena ada risiko tarun mutu dan rusak. Kalau penyaluran beras hingga akhir tahun kecil, risiko besar menumpuk di awal 2026,” ucapnya.
Sebelumnya, Perum Bulog telah mengetahui soal potensi penurunan mutu ini. Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Mokhamad Suyamto menyebut solusinya dengan memprioritaskan perbaikan kualitas atau reprocess pada cadangan beras pemerintah itu. Terdapat kurang dari 0,1 persen dari 3,9 juta cadangan beras pemerintah yang diperbaiki kualitasnya ini. “Sebagai tindakan perbaikan beras agar kualitas terjaga, dapat disalurkan dan layak untuk dikonsumsi,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis, 4 September 2025.
Suyamto menyatakan saat ini Bulog telah menyerap sebanyak 3,9 juta ton beras. Adapun sekitar 75 persen atau 2,95 juta ton beras merupakan hasil pengadaan dalam negeri. Sementara sisanya merupakan beras impor pada akhir 2024. Ia mengatakan, Bulog memiliki prosedur pemeliharaan beras di gudang secara berkala dan mekanisme pengendalian mutu yang ketat melalui sistem Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT).
Beberapa upaya yang dilakukan Bulog untuk menjaga kualitas beras, kata Suyamto, adalah merawat secara rutin, mulai dari spraying untuk mencegah hama, fumigasi jika terdapat indikasi serangan hama, hingga monitoring harian terhadap kondisi gudang dan lingkungan penyimpanan.
Suyamto mengatakan Bulog secara periodik memeriksa kualitas beras di laboratorium terakreditasi nasional untuk memastikan kelayakan konsumsi. Kemudian, ada pula uji kualitas beras dilakukan terakhir kali pada Agustus 2025 di Laboratorium PT Saraswanti Indo Genetech dan Laboratorium PT Sucofindo. Menurut dia, hasil uji laboratorium menunjukkan beras yang disimpan di gudang Bulog memiliki kandungan yang masih memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdani memastikan seluruh beras yang disalurkan untuk programme pemerintah, baik melalui programme stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) maupun bantuan pangan selalu melalui pemeriksaan kuantitas dan kualitas sebelum dilakukan pengemasan ulang. “Bulog berkomitmen untuk memastikan beras yang sampai ke masyarakat selalu dalam kondisi baik dan layak konsumsi," kata Rizal.
Alfitria Nefi berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
.png)
6 months ago
5










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



