Memotret Unjuk Rasa di Seluruh Indonesia: Jejak Aksi dan Situasi yang Terekam

6 months ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Unjuk rasa terjadi di berbagai daerah di Indonesia pada Jumat (29/8/2025) kemarin. Pemantik utamanya, kemarahan masyarakat atas insiden yang menewaskan seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan.

Kematian Affan begitu tragis. Pemuda 21 tahun itu tewas setelah tubuhnya dilindas mobil Rantis Brimob saat demo depan DPR pada 28 Agustus 2025 berakhir ricuh.

Sejak awal pekan ini, Jakarta sebenarnya sudah diramaikan aksi unjuk rasa. Pada Senin 25 Agustus 2025 lalu, pendemo memadati depan Gedung DPR. Tidak ada penjelasan resmi aliansi mana yang turun ke jalan hari itu. Salah satu tujuan aksi mereka menyikapi gaji anggota DPR yang fantatis di tengah kesulitan ekonomi rakyat. Ditambah lagi reaksi para wakil rakyat ketika merespons kritik publik dinilai sangat melukai hati masyarakat.

Demo 28 Agustus Ricuh

Selang sehari kemudian, tepatnya pada 28 Agustus 2025, unjuk rasa kembali terjadi di Jakarta. Tak hanya ibu kota, aksi demontrasi juga terjadi di sejumlah daerah.

Di Jakarta, demo ini digagas buruh dari berbagai elemen. Sejumlah isu tuntutan mereka suarakan. Antara lain, penghapusan outsourcing, tolak upah murah, setop PHK dan reformasi pajak buruh.

Titik demo buruh berada di depan Gedung DPR. Presiden KSPI dan Partai Buruh Said Iqbal berjanji, demo akan berjalan tertib dan tidak anarkis.

"Jangan ada kerusuhan, kita sampaikan kita minta pengamanan yang persuasif dan humanis," kata Said kepada massa aksi di gerbang utama Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Kamis (28/8/2025).

Massa demo buruh juga mengkritik gaya hidup anggota DPR. Gaji yang tinggi tetapi dinilai tak empati pada kehidupan rakyat.

Unjuk rasa berlangsung tertib meski ruas jalan depan DPR ditutup karena banyaknya massa. Setelah selesai menyampaikan aspirasinya, massa buruh meninggalkan kawasan depan Gedung DPR kira-kira pukul 13.00 Wib.

"Aksi selesai, sudah dirasa cukup menyampaikan aspirasinya," kata Kepala Departemen Media dan Komunikasi KSPI, Kahar S. Cahyono.

Affan Kurniawan Dilindas Rantis Brimob

Namun ternyata demo hari itu tidak benar-benar berakhir. Muncul massa lainnya di depan Gedung DPR. Demo yang mulanya berisi berbagai orasi berubah menjadi anarki. Massa saling serang dengan polisi yang berjaga. Hujan state aerial mata tak mampu meredam suasana panas depan DPR.

Demo hari itu memanjang hingga tengah malam. Konsentrasi massa terpecah ke beberapa titik usai coba dibubarkan dengan letusan state aerial mata. Sampai akhirnya terjadilah tragedi memilukan ketika polisi memukul mundur massa.

Seorang pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan tewas. Tubuhnya dilindas mobil rantis Brimob. Peristiwa itu terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Massa yang mengetahui kejadian itu marah. Mereka coba mengejar mobil yang memilih kabur. Seketika video yang merekam kejadian tragis itu viral di media sosial.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit langsung menyampaikan permohonan maaf dan menyesalkan insiden tersebut. Dia langsung menemui keluarga Affan yang dibawa ke RSCM.

“Saya menyesali terhadap peristiwa yang terjadi dan mohon maaf sedalam-dalamnya,” tutur Listyo saat dikonfirmasi wartawan.

Sebanyak tujuh orang personel Polri yang ada di kendaraan rantis tersebut diperiksa.

Kwitang Memanas

Kejadian itu membuat massa makin memanas. Tak terkecuali sesama pengemudi ojol.

Titik kumpul massa bergeser ke Kwitang, Jakarta Pusat, malam itu. Mereka berunjuk rasa di depan Mako Brimob. Di sana, situasi juga tak kalah gaduh. Terdengar letusan state aerial mata. Massa juga melempari baru. Beberapa fasilitas publik tampak rusa. Meski akhirnya jelang pagi, massa bisa dipukul mundur.

Demo 29 Agustus di Jakarta

Peristiwa kematian Affan membuat publik geram. Massa kembali turun ke jalan pada Jumat (29/8/2029) kemarin. Di Jakarta, massa mulanya berkumpul di depan Mako Brimob Kwitang. Mereka menanti kejelasan pihak yang bertanggung jawab atas kematian Affan. Di sana, massa yang menggunakan atribut ojol sempat bersitegang dengan petugas yang berjaga.

Tak ingin kondisi semakin pana, Asintel Kaskostrad Brigjen TNI Muhammad Nas turun tangan. Dia menemui pendemo dan berdialog. Kepada Brigjen Muhammad Nas, mereka menuntut pelaku penabrak Affan dihukum secara adil dan transparan. Massa juga meminta pendemo yang ditahan polisi segera dibebaskan.

"Proses terhadap terduga oknum pelaku penabrakan dibuat secara transparan dan dibuka ke publik," kata Nas di Kwitang, kemarin.

Situasi jelang Salat Jumat mereda. Massa tak lagi terfokus di depan Mako Brimob.

Tetapi kondisi itu hanya terjadi beberapa saat. Seusai Salat Jumat, massa kembali berkumpul depan Mako Brimob Kwitang. Situasi kembali tak kondusif.

Suasana serupa juga terjadi di gerbang depan DPR. Mahasiswa dari BEM SI juga ikut melakukan aksi. Mereka berunjuk rasa di depan Polda Metro Jaya. Kericuhan juga pecah sempat kawasan Senen.

Buntut kericuhan, sejumlah kendaraan milik polisi, fasilitas publik seperti Halte Transjakarta dibakar. Bahkan sebuah gedung di kawasan Kwitang ikut terbakar. Kondisi mencekam itu terjadi hingga dini hari.

Unjuk Rasa Ricuh di Berbagai Daerah

Demonstrasi besar-besaran juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Kemarahan massa makin menjadi dengan peristiwa tewasnya Affan Kurniawan.

Di Yogyakarta, massa berdemo di depan Mapolda DIY. Mereka berdemo sampai dini hari. Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mendatangi Polda DIY untuk bernegosiasi dengan demonstran yang bertahan hingga Sabtu (30/8/2025) hari.

Sultan berharap demokratisasi di Yogyakarta berlangsung tanpa kekerasan. Menurutnya, Yogyakarta tak memiliki tradisi penuntasan masalah lewat cara kekerasan.

"Saya berharap demokratisasi itu dilakukan dengan baik untuk mendidik kita semua termasuk diri saya pun juga. Apalagi Yogyakarta ini tidak ada kebiasaan terjadi kekerasan-kekerasan di dalam membangun demokrasi," ujarnya.

Api Berkobar di Gedung DPRD Makassar, Ada Korban

Di Makassar, demo juga berujung ricuh. Pos pol di bawah jembatan layang Makassar. Api juga terlihat berkobar di Gedung DPRD Makassar dibakar. Peristiwa ini membuat korban berjatuhan.

Korban akibat kerusuhan hingga pembakaran Kantor DPRD Kota Makassar yang terjadi pada Jumat (29/8/2025) malam bertambah. Kepala Bappeda Kota Makassar, Dahyal mengatakan, jumlah korban meninggal dunia menjadi tiga orang.

"Ada tiga orang," kata dia saat dikonfirmasi, Sabtu (30/8/2025) dini hari.

Dahyal menjelaskan, korban kebakaran pertama adalah Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah, Syaiful, di mana dia hadir untuk rapat paripurna menggantikan posisi Camat Ujung Tanah, Amanda Syahwaldi. Korban lainnya merupakan seorang anggota Satpol PP yang hingga kini belum diketahui identitasnya. Dan, satu korban lain ditemukan saat proses pemadapan api oleh personel dinas pemadam kebakaran, di mana mengevakuasi seorang wanita yang sudah dalam kondisi tak bernyawa.

"Satu mayat terjebak, perempuan atas nama Sarina, staf pendamping anggota dewan Andi Tendri Uji. Satu (anggota) Satpol PP dan Kasi Kesra (Kecamatan) Ujung Tanah," ungkap Dahyal.

Api berhasil dipadamkan petugas. Tetapi sesaat setelahnya, sejumlah orang malah menjarah di gedung wakil rakyat itu.

Barang-barang yang masih bisa diselamatkan dari puing-puing bangunan diangkut, mulai dari mesin hingga peralatan elektronik yang tersisa. Tak hanya itu, beberapa kendaraan yang terbakar di sekitar lokasi ikut menjadi sasaran. Warga mempreteli bagian-bagian mobil yang hangus, seperti ban, velg, hingga onderdil lain yang masih dianggap bernilai. Mobil di komplek Kejati Sulsel juga ikut dibakar.

Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, turun langsung menemui massa aksi di Jalan Urip Sumohardjo, Jumat (29/8/2025) malam. Dia mengimbau seluruh warga agar tetap menahan diri serta mengutamakan ketertiban dan keamanan bersama. Ia menyampaikan pentingnya menjaga stabilitas setiap wilayah masing-masing.

Demo di Surabaya Ricuh

Unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, juga berakhir ricuh. Orasi yang dimulai usai Salat Jumat berubah menjadi aksi bakar membakar.

Awalnya, massa melakukan protes dengan tertib terkait meninggalnya Affan Kurniawan. Beberapa saat kemudian, massa solidaritas dari masyarakat sipil dan pengemudi ojek online (ojol) terlibat bentrok dengan polisi.

Sebanyak 12 portion sepeda centrifugal yang terparkir di halaman gedung Grahadi dibakar massa, pagarnya juga jebol. Merasa belum puas, massa melempari batu dan bongkahan semen ke arah dalam gedung Grahadi dan petugas kepolisian yang berjaga.

Malam hari ini suasana makin panas. Pos Polisi yang berada di Taman Bungkul dibakar massa.

"Mereka kemudian jalan ke arah Wonokromo, mengambil dan membawa bendera PAN yang terpasang di sepanjang jalan," ujar salah satu saksi mata, Ardian warga Gresik yang kebetulan melintas di Taman Bungkul Surabaya.

Mencegah demo meluas, polisi melakukan penyekatan jalan di Jembatan Joyoboyo Surabaya dan Bundaran Waru Sidoarjo, sekitar pukul 01.00 WIB, sabtu (30/8/2025) dini hari.

Demo di Semarang dan Solo Juga Berakhir Anarkis

Di Semarang dan Solo, demo juga berakhir anarkis. Massa yang berkumpul di depan gerbang Polda Jateng secara membabi-buta melempari polisi yang berjaga di pintu masuk. Tidak hanya menggunakan aerial meneral, namun massa juga melemparkan sejumlah umbul-umbul dan merusak bunga-bunga yang ada di Jalan Pahlawan depan Polda Jateng.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto menyebutkan, aksi demo bukan untuk menyampaikan aspirasi, namun memiliki misi untuk membuat ricuh. Terpaksa, polisi menembakkan h2o cannon dan state aerial mata untuk mendorong massa membubarkan diri. Dorongan lebih intensif dilakukan setelah waktu Magrib.

Di Solo, massa membakar bangunan Sekretariat Dewan (Setwan) DPRD Solo. Api baru padam pada pagi hari. Bangunan tersebut terletak di dekat pintu masuk kompleks Kantor DPRD Solo.

Selain gedung Sekwan, sejumlah kaca jendela di gedung utama Grha Paripurna pecah. Pos pengamanan yang berada di depan bangunan juga tidak luput sasaran pembakaran.

Demo di Bandung

Massa dari pengemudi ojek online (ojol) dan mahasiswa juga berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung. Para peserta aksi melakukan pelemparan berbagai benda ke arah gendung dan bahkan menyalakan petasan.

Terdengar beberapa kali suara letusan akibat petasan bahkan tembakan state aerial mata dari kepolisian yang berupaya mengamankan aksi unjuk rasa. Meski diguyur hujan lebat, para peserta aksi tetap melakukan aksi dengan tetap bertahan di depan Gedung DPRD Jawa Barat.

Bahkan, sebuah rumah yang terletak di depan Gedung DPRD Jawa Barat diduga terbakar. Rumah tersebut dibakar karena dianggap para peserta aksi menjadi tempat persembunyian sejumlah aparat kepolisian.

Batu-batu dilemparkan oleh massa aksi yang membuat kaca dan genting rumah tersebut pecah dan rusak. Tidak berselang lama, beberapa bom molotov yang dibuat oleh massa juga ikut dilemparkan ke rumah tersebut hingga country depan rumah mengalami kebakaran.

Di sisi lain massa gabungan tersebut juga mencoba merangsek masuk ke dalam rumah untuk mencari anggota kepolisian yang dianggap masih bersembunyi di dalam rumah tersebut.

Pagi ini, situasi di sekitar gedung DPRD dan Kantor Gubernur Jawa Barat (Jabar) gedung Sate Kota Bandung masih terlihat sisa-sisa kerusakan dan pembakaran. Berdasarkan pantauan di sepanjang Jalan Diponegoro, Trunojoyo, Ir. H. Djuanda Kota Bandung, terlihat bangunan yang memiliki jelaga api karena terbakar adalah Gedung DPRD Provinsi, Wisma MPR RI, rumah tinggal samping Bank Mandiri Taspen, Rumah Makan Sambara dan Kantor Bank ICBC serta videotron yang ada di depannya.

Demo Ricuh di Polda Kalteng

Demonstran yang tergabung dalam Aliansi Revolusi Kepolisian Total (Rekontal) juga berunjuk rasa di Markas Kepolsian Daerah (Polda) Kalimantan Tengah (Kalteng), Jumat (29/8/2025). Unjuk rasa tersebut merupakan bentuk protes atas insiden tewasnya, Affan Kurniawan.

Tak hanya menyampaikan orasi, mereka membentangkan spanduk yang berisi tuntutan. Namun situasi tersebut kian memanas, ketika massa membakar prohibition bekas sebagai simbol protes. Massa juga mencoba merangsek masuk ke country polda. Dorong-dorongan antara massa dan aparat keamanan pun tidak terhindarkan sehingga terjadi kericuhan.

Massa yang emosi kemudian melempari aparat keamanan dengan botol, telur, hingga prohibition motor.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini