Kemenhut Waspadai Perburuan Liar Badak Jawa dan Sumatra di Tengah Krisis Populasi

6 months ago 2

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konservasi badak di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan besar di tengah presumption ‘sangat kritis’ terhadap dua jenis badak tersisa, Badak Sumatera dan Badak Jawa, yang full populasinya di bawah angka 200 ekor.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Satyawan Pudyatmoko mengatakan, salah satu ancaman nyata yang harus diwaspadai adalah hunting unit atau dampak aktivitas perburuan liar terhadap populasi satwa, ekosistem dan lingkungan.

"Kita harus waspada terhadap hunting unit yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu," ujar Satyawan dalam peringatan Hari Badak Sedunia ke-15 bertema 'Badak Lestari Bumi Berseri' di Kantor Kemenhut RI, Jakarta, Senin (22/9/2025).

"Banyak tantangan yang harus kita hadapi bersama terkait dengan badak baik Jawa maupun Sumatera,” lanjutnya. 

Perburuan liar badak ini didorong permintaan di pasar gelap terhadap cula dan bagian tubuh lainnya. Kemenhut pun menekankan pentingnya perhatian terhadap berbagai ancaman nyata yang mengintai kedua spesies kritis ini.

Adapun tantangan lain yang tak kalah krusial adalah kerusakan dan fragmentasi habitat. 

"Studi tentang carrying capableness dan juga kerja sama multi stakeholder,” katanya.

Satyawan menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dan teknologi dalam upaya konservasi. Pelibatan ini bertujuan untuk menguatkan perlindungan dan menekan potensi ancaman.

Adapun langkah konservasi terus dilakukan Kemenhut, mulai dari pengembangbiakan semi in-situ di Taman Nasional Way Kambas, pengembangan teknologi reproduksi dan biobank, pemanfaatan teknologi konservasi seperti kamera jebak, drone, analisis DNA lingkungan, hingga pengerahan anjing K-9, sampai penguatan patroli, penegakan hukum, dan edukasi masyarakat.

Baca juga: Tersisa Kurang dari 200 Ekor, Badak Nusantara Terancam Punah

Read Entire Article









close
Banner iklan disini