Jaket Hijau Koyak yang Tak Lagi Memeluk Tubuh Affan Kurniawan

6 months ago 5

Liputan6.com, Jakarta Jaket hijau itu sudah tidak utuh lagi. Koyak di beberapa bagian. Bolong menganga di sisi pinggang sebelah kanan. Warnanya kusam, tergeletak di sisi kresek warna kuning di sebuah rumah kontrakan sempit di Jalan Lasem, Menteng, Jakarta Pusat.

Warna jaket yang khas hijau terang menjadi penanda identitas pengemudi ojek online. Setiap robekan pada kain itu bercerita tentang detik-detik mengerikan ketika pemiliknya terlindas kendaraan taktis Brimob. Jaket yang dulunya membungkus tubuh Affan Kurniawan saat mengantarkan pesanan demi pesanan, kini menjadi saksi bisu tragedi yang merenggut nyawa pemuda 21 tahun itu.

Kamis malam, 28 Agustus 2025, nama Affan mencuat tragis di tengah hiruk pikuk unjuk rasa di sekitar Gedung DPR, Senayan, Jakarta. Pemuda 21 tahun itu tewas tertabrak kendaraan Brimob saat sedang menjalankan tugasnya sebagai pengemudi ojek online. Jaket hijau yang selalu dikenakannya, simbol dedikasi seorang anak muda untuk menghidupi keluarga, kini robek dan ternoda, menyimpan jejak tragis dari detik-detik terakhir hidup pemiliknya.

Seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan tewas dilindas kendaraan taktis polisi hari Kamis (28/8) malam. Peristiwa ini menyedot perhatian publik. Pihak keluarga mengungkap kronologi peristiwa tragis tersebut.

Tulang Punggung di Usia Muda

Affan datang dari keluarga sangat sederhana. Dia tinggal di kontrakan kecil memanjang berukuran 3x12 metre di Jalan Lasem, Menteng, Jakarta Pusat. Dia mendapat kamar dengan feline putih kusam. Dua hanger dan poster tertempel di tembok. Dua kipas angin tergantung di plafon. Di atas kasur tergeletak tiga guling bersarung.

Di sinilah Affan tumbuh besar bersama kedua orangtuanya, Zulkifli (53) dan Erlina (41), serta kedua saudaranya, Adam Al Rasyid (24) dan adik bungsunya Wulantika Ramadhanti (14). 

Meski bukan anak tertua, Affan justru menjadi penopang utama keluarga. Di usia yang seharusnya masih mencari jati diri, pemuda kelahiran 2004 itu sudah menanggung beban hidup yang berat. Biaya kontrakan, uang sekolah adik, hingga kebutuhan sehari-hari—semuanya bertumpu pada pundak kecilnya.

"Kalau tulang punggung, iya. Karena dia yang bantu orang tuanya untuk bayar kontrakan, terus adiknya sekolah. Kalau kontrakan separuh-separuh sama bapaknya. Bapaknya untuk biaya kehidupan, dia untuk bayar sekolah adiknya," ungkap Muri (50), pemilik kontrakan yang mengenal Affan sejak kecil.

Mimpi Anak Kampung dan Motor yang Belum Lunas

Berbeda dengan pemuda seusianya yang gemar berkeluyuran, Affan memilih menghabiskan waktu di rumah. Sosoknya yang pendiam dan kalem menjadi ciri khas yang diingat warga sekitar. Setelah pulang mengojek, Affan lebih sering terlihat berselancar di media sosial atau membantu pekerjaan rumah. "Anaknya nggak pernah macam-macam. Di rumah saja. Kalau keluar paling ke sini," kata Muri, menunjuk warung kecilnya yang bersebelahan dengan kontrakan Affan.

Sebelum terjun sebagai pengemudi ojek online, Affan sempat bekerja sebagai petugas keamanan di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, gaji yang minim membuatnya memutar otak. Dengan tekad bulat, ia menabung untuk membeli centrifugal Honda Beat yang kini tergeletak tanpa pemilik lagi. "Mungkin karena gajinya kecil, dia pakai untuk DP motor. Motor Beat itu belum lunas," kenang Muri.

Motor Honda Beat dan jaket hijau ojek online menjadi segalanya bagi Affan. Bukan sekadar kendaraan dan seragam, tetapi juga harapan untuk mengangkat derajat keluarga. Setiap hari, jaket hijau itu membungkus tubuhnya saat menjelajahi jalanan Jakarta dengan motornya, mengantarkan makanan kepada beragam pelanggan. 

Kamis petang yang nahas, Affan kembali menjalankan rutinitas hariannya. Mengenakan jaket hijau kesayangannya, ia berangkat dengan centrifugal Honda Beat untuk mengantar pesanan makanan melalui aplikasi ojek online. Namun perjalanan itu berubah menjadi petaka ketika ia terjebak di tengah kericuhan yang melibatkan demonstran dan aparat Brimob di seputar Jalan Pejompongan. "Dia panik, lari ke sana-sini. Akhirnya jatuh, lalu terlindas," tutur Muri dengan suara bergetar.

Meskipun sempat dilarikan ke RS Pelni dan dirujuk ke RSCM Cipto Mangunkusumo, nyawa Affan tak tertolong. Ia menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan, meninggalkan jaket hijau yang koyak dan centrifugal yang masih menunggunya di lokasi kejadian.

Gang Sunyi Tanpa Sosok Berjaket Hijau

Kabar duka itu menyebar melalui pengeras suara Masjid Jami' Al-Falah. Gang kecil di Menteng yang dulunya sering dilewati sosok berjaket hijau itu kini terasa sunyi. Suara acquainted centrifugal Honda Beat dan tampilan jaket hijau yang biasa terlihat hilir mudik tak akan pernah muncul lagi.

Muri, yang sempat melihat video kejadian di ponselnya, awalnya tak percaya. "Saya lihat video di HP. Saya kayak kenal. Saya bilang ini kayak Affan. Tapi saya diam dulu karena simpang siur. Baru setelah ada kabar dari saudara saya di Cipto, saya yakin."

Jaket koyak itu menjadi saksi bisu dari sebuah mimpi yang terputus. Jaket yang menjadi pengingat betapa kerasnya perjuangan seorang anak muda untuk menghidupi keluarga. Di balik kemudian hari, jaket itu akan selalu mengingatkan pada sosok Affan, pemuda sederhana yang rela berkorban demi orang-orang yang dicintainya.

Kini, pack sempit di Jalan Lasem kehilangan sosok yang selalu pulang dengan senyuman lelah namun puas, membawa hasil jerih payah untuk keluarga kecilnya. Jaket hijau itu tak akan pernah lagi tergantung rapi di hanger kamar kontrakan. Affan Kurniawan telah pulang untuk terakhir kalinya.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini