INDUSTRI tahu di kawasan Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur, masih menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar pemanasan dan penggorenganya, meski telah dilarang oleh pemerintah setempat. Pakar lingkungan angkat bicara dan memberikan solusi masalah tersebut.
Dari pantauan Tempo saat berkunjung ke Dusun Areng Areng, Desa Tropodo, pada Rabu, 13 Agustus 2025, terlihat aktivitas industri tahu dengan cerobong asapnya mengeluarkan asap hitam yang pekat.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Salah satu pengusaha tahu di sana, Muhajir, membenarkan pabriknya masih menggunakan bahan bakar sampah plastik. Namun, dia memilih untuk mencampur dengan sabut kelapa. “Agar asapnya tidak terlalu hitam pekat. Bisa dilihat sendiri cerobong saya tidak sepekat lainnya,” kata Muhajir.
Dia menceritakan bahwa industri tahu di kawasan Tropodo sudah belasan tahun menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar. Alasan utamanya karena biaya yang rendah.
Menurut Muhajir, ada beberapa pabrik pemasok sampah plastik ke Tropodo, mulai dari pabrik sepatu-tas dan pabrik kertas. Pabrik-pabrik itu akan memasok sesuai kebutuhan industri di sana. “Kalau pakai kayu bakar, harganya tidak sebanding dengan ongkos produksi dan penjualan tahunya,” jelas Muhajir.
Muhajir mengatakan bahwa para pelaku industri tahu sudah beberapa kali dipanggil oleh pemerintah setempat terkait larangan penggunaan sampah plastik tersebut. Terakhir kali mereka dikumpulkan pada awal Mei 2025. “Pemerintah tidak pernah memberi solusi, hanya melarang saja. Bahkan saya tidak punya kesempatan bicara waktu ada Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak,” ucap Muhajir.
Senada dengan Muhajir, tiga orang pengusaha tahu lainnya juga mengaku tisak pernah diberi solusi. Walhasil, mereka tetap menggunakan bahan bakar sampah plastik.
Salah satu pengusaha yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa sampah plastik juga membuat api cepat membara dengan besar. Ini berpengaruh pada hasil penggorengan. “Hasilnya lebih bagus dan tahan lama. Kalau cuma kayu bakar, hasilnya lebih kering, tidak kenyal,” ucapnya.
Tempo berusaha menghubungi Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo Bahrul Amig terkait hal ini sejak Jumat, 29 Agustus 2025. Namun, Bahrul tidak merespons pesan WhatsApp hingga berita ini naik.
Sementara itu, pakar lingkungan Rizkiy Amaliyah Barakwan menanggapi penggunaan bahan bakar sampah plastik ini. Menurut dia, sebagian pemilik dan masyarakat di sana belum memperhatikan dampak yang terjadi.
Rizki mengatakan bahwa pembakaran sampah plastik secara terbuka pada suhu rendah di bawah 850°C tanpa alat pengendali pencemar udara di cerobong dapat menghasilkan zat dioksin.
Zat dioksin bersifat sangat toksik, karsinogenik, dan beracun. “Selain itu, partikel halus yang dihasilkan dapat menyebabkan risiko infeksi saluran pernapasan dan kanker,” ucap dosen Teknik Lingkungan Universitas Airlangga (Unair) ini.
Menurut dia, ada sejumlah alternatif pengganti sampah plastik, misalnya kayu bakar, pemanfaatan kembali minyak jelantah, atau state LPG.
Rizkiy menegaskan bahwa pemerintah harus aktif melakukan pemantauan operasional pabrik dan emisi, serta kualitas udara di sekitar pabrik. Pemerintah juga wajib memberikan solusi dan hukuman terhadap pabrik yg masih melanggar ketentuan operasional.
“Intinya, kerja sama juga dibutuhkan antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pemilik pabrik, dan akademisi dalam menyelesaikan masalah ini secara optimal,” pungkasnya.
.png)
6 months ago
3










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



