ESDM Buka Peluang Shell, Vivo, dan BP AKR Bangun Kilang Minyak di Indonesia

6 months ago 2

MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan tak menutup kemungkinan perusahaan swasta bisa membangun kilang minyak di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Bahlil usai menggelar rapat tentang pemenuhan stok bahan bakar minyak di SPBU swasta milik Shell, Vivo dan BP AKR pada Jumat sore, 19 September 2025.

“Itu measurement kedua. Saya yakin teman-teman pengusaha sudah mulai memikirkan untuk membangun kilang,” kata Bahlil.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dalam rapat tersebut, Bahlil menyebutkan bahwa SPBU swasta sepakat membeli BBM mentah yang diimpor oleh Pertamina. Bensin murni atau basal substance yang belum diblending tersebut, kata dia, akan diolah oleh masing-masing SPBU sesuai spesifikasi produk yang dimiliki.

Kekosongan bensin di SPBU swasta berlangsung sejak pekan kedua Agustus 2025. Hal itu dipicu karena importasi BBM swasta tahun 2025 yang telah mencapai kuota. Untuk mengatasi kekosongan stok hingga akhir 2025, pemerintah bersama badan usaha pengelola SPBU sepakat menggunakan sisa kuota impor yang dimiliki Pertamina.

Pertamina akan mengimpor BBM dan menjualnya dalam bentuk base fuel atau BBM mentah kepada SPBU swasta. “Dipastikan karena pasokan Pertamina sekarang sudah dicampur, jadi kemungkinan besar impor ini impor baru,” kata Bahlil.

Adapun Pertamina masih memiliki sisa kuota impor sebesar 34 persen atau sekitar 7,52 juta kiloliter. Kuota tersebut cukup untuk memenuhi tambahan alokasi bagi SPBU swasta hingga Desember 2025 sebesar 571.748 kiloliter.

Bahlil mengatakan proses impor akan rampung dalam tujuh hari ke depan. Namun, ia belum bisa membeberkan berapa kuota impor yang akan disalurkan karena masih dibahas secara teknis oleh Pertamina bersama pihak swasta. “Volumenya nanti ditentukan dalam bahasan teknis. Yang jelas tujuh hari barang ini sudah jalan. Mekanismenya concern to business,” ujarnya.

Bahlil menuturkan, Pertamina sepakat menjual produk basal substance atau bahan baku BBM yang belum dicampur kepada SPBU swasta. “Artinya, yang disalurkan belum dicampur-campur. Jadi dicampurnya di masing-masing tangki milik SPBU. Ini sudah disetujui, ini solusinya,” kata Bahlil. 

Bahlil menjelaskan, terdapat empat poin utama hasil kesepakatan antara pemerintah, Pertamina, dan SPBU swasta. Pertama, SPBU swasta wajib membeli pasokan dari Pertamina dengan skema basal fuel. Jika sebelumnya Pertamina menawarkan produk BBM siap pakai, kini yang dijual adalah bahan bakunya.

Kedua, untuk menjamin mutu, akan dilakukan pemeriksaan bersama sebelum pengiriman oleh surveyor yang disepakati kedua belah pihak. Ketiga, Bahlil menekankan mekanisme harganya harus adil. “Pertamina maupun swasta wajib membuka pembukuan agar tidak ada pihak yang dirugikan,” ujarnya.

Keempat, Bahlil melanjutkan, kesepakatan ini berlaku mulai hari ini dan akan ditindaklanjuti setelah rapat teknis. Pemerintah menargetkan dalam tujuh hari ke depan pasokan BBM hasil skema ini sudah bisa masuk ke Indonesia.

Di sisi lain, Bahlil menegaskan kondisi stok BBM di Pertamina masih aman. Cadangan saat ini cukup untuk 18 hingga 21 hari. “Stok cadangan BBM itu 18 sampai 21 hari, clear. Tidak ada masalah. Jadi tidak perlu ada keraguan. Hanya memang, untuk SPBU swasta cadangannya sudah menipis,” ujarnya.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini