Dari Banyuwangi untuk Indonesia: Rabanton Hadirkan Inovasi Beton Apung Pertama Indonesia

6 months ago 6

TRIBUNNEWS.COM - Di balik nama yang unik, “Menlu”, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang pengusaha Banyuwangi yang jatuh bangun dalam dunia bisnis. Setelah bangkrut di bisnis semen, ia justru menemukan jalan baru yang membawanya pada kesuksesan: membangun Rabanton, perusahaan beton pracetak yang kini kian dikenal di berbagai daerah.

Dari Nelayan Hingga Distributor Semen

Lahir di Situbondo dan besar di Banyuwangi, Menlu tumbuh dari keluarga sederhana. Orang tuanya bekerja sebagai nelayan, sementara dirinya sejak muda sudah terbiasa ikut membantu. Selepas dewasa, ia sempat terjun di bisnis ikan keluarga. Namun, bisnis itu dirasa tidak sesuai dengan panggilan hatinya.

Kesempatan datang ketika ia menjadi distributor semen dari paman yang memiliki pabrik. Meski sempat bersemangat, jalan tersebut justru menjadi masa tergelap dalam hidupnya. Persaingan harga, tempo pembayaran panjang, hingga risiko besar tanpa jaminan membuat bisnisnya jatuh. “Bukan hanya tanpa tabungan, saya justru terjerat utang miliaran,” kenangnya.

Titik Balik: Lima Cetakan Beton

Di tengah keterpurukan, Menlu memilih bangkit. Dengan sisa dana seadanya, ia membeli lima cetakan beton. Dari cetakan sederhana itu, lahirlah produk perdana: yudit, container culvert, dan pagar beton.

“Kalau ini gagal, saya benar-benar tidak tahu harus apa lagi,” ujarnya. 

Berbekal semangat, doa, dan dukungan keluarga, ia mengerjakan produksi sendiri. Perlahan, usahanya mendapat perhatian. Pemerintah daerah memberi kesempatan proyek, dan dari situlah jalan Rabanton mulai terbuka.

Rabanton: Rajanya Beton Banyuwangi

Dilansir dari Channel Youtube Pecah Telur, nama Rabanton merupakan singkatan dari “Rajanya Banyuwangi Beton”, yang kemudian diplesetkan menjadi “Rajanya Barang Beton”. Meski terdengar sederhana, kiprah Rabanton justru semakin luas.

Produk-produk Rabanton menjawab kebutuhan infrastruktur: saluran drainase, pagar, hingga inovasi dermaga apung beton. Dermaga apung ini berbeda karena bisa terapung tanpa pondasi, mudah dipindahkan, namun tetap kokoh. Biayanya pun jauh lebih murah, hanya Rp10 juta per meter, dibanding dermaga konvensional yang bisa mencapai Rp30–50 juta per meter.

“Kita ini negara maritim. Dengan dermaga apung, akses laut bisa lebih murah dan efisien,” kata Menlu penuh semangat.

Filosofi: Semut, Bukan Gajah

Menlu percaya, kesuksesan bukan soal menjadi yang paling besar, melainkan paling bermanfaat. “Saya ingin jadi semut yang ada di mana-mana, bukan gajah besar yang hanya berdiri di satu tempat,” tuturnya.

Itulah sebabnya ia memilih exemplary bisnis franchise tanpa royalti. Rabanton mengajak pengusaha lokal di seluruh Indonesia untuk ikut memproduksi beton pracetak dengan standar yang sama. Ia menolak sekadar “jualan besar-besaran” dari pusat, karena percaya setiap daerah harus memiliki pengusaha lokal yang berdaya. “Kalau untung, baru kita berbagi. Kalau belum ada hasil, tidak ada yang perlu dibagi,” tambahnya.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini