Cholil Mahmud Bicara soal Keterlibatan Musisi Suarakan Keresahan Masyarakat

6 months ago 4

VOKALIS Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, mengikuti aksi Seni Lawan Tirani yang digagas Dewan Kesenian Jakarta sebagai respons demonstrasi yang terjadi beberapa hari terakhir. Sebagai musisi, menurut dia saat ini bukan waktu yang tepat untuk berkarya seperti di workplace mengingat adanya kemarahan di tengah masyarakat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut dia, alih-alih berkarya, ia memilih bersama warga menuntut perubahan dan kebijakan yang signifikan. “Jangan yang cuma untuk mengalihkan demonstrasi saja. Jadi ada masanya kami akan mengolahnya menjadi karya seni, ada masanya mengolahnya menjadi sebuah aksi nyata turun ke jalan bersama warga karena kami juga bagian dari warga,” katanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Senin, 1 September 2025.

Cholil menuturkan, Efek Rumah Kaca biasanya mengubah sesuatu menjadi karya pada saat momen-momen yang reflektif, seperti menabung topik terlebih dulu. Sebab untuk saat ini yang paling utama adalah berada di luar workplace dan menyuarakan keresahan bersama-sama. “Orang-orang yang hadir di sini itu penting untuk saling menguatkan antara warga, seniman, dan para pendengar,” katanya.

Cholil Mahmud: Karya Seni Cerminan Keresahan Masyarakat

Pelantun lagu “Di Udara” itu juga menyoroti hambatan para musisi untuk bersuara, khususnya keterlibatan industri musik. Menurut dia, dari dulu juga jarang musisi mengangkat topik yang mengkritisi kebijakan pemerintah.

“Momentum ini bisa jadi awalan untuk membuka mata, dalam situasi politik yang tidak jelas, industri juga tidak jalan. Industrinya butuh kepekaan-kepekaan dari para seniman," kata dia. Cholil mengatakan, seniman lebih peka daripada masyarakat. Karena itu, kata dia, "Seniman harus bisa menularkan kepekaan mereka agar masyarakat mengerti bahwa banyak terjadi ketidakadilan.”

Dengan begitu, karya para musisi merupakan cerminan dari keresahan masyarakat. “Dari situ bisa saling terwujud warga jaga warga. Itu kan bisa di mana-mana juga. Jaga kewarasan melalui karyanya,” kata Cholil. Menurut dia, seniman tak perlu malu terinspirasi dari masyarakat jika tak mendalami permasalahan yang mengarah pada kritik terhadap pemerintah. 

Cholil menuturkan, perasaan adil merupakan sikap yang harus dimiliki oleh para musisi. Tiap musisi bisa memulainya dengan menghormati jadwal manggung, soundcheck, dan ketertiban lainnya. “Itu laku yang harus ada di antara musisi-musisi. Di backstage enggak perlu ada hak istimewa yang berlebihan, yang tidak terlalu berpengaruh untuk penampilan secara teknis. Sehingga bisa menyebabkan misalnya diskriminasi,” katanya.

Cholil memberikan contoh diskriminasi yang kerap terjadi antarmusisi, seperti musisi yang harus memiliki mixer sendiri demi kebutuhan panggung. Menurut dia, selain memberatkan promotor yang punya kapasitas terbatas, hal itu juga menimbulkan represi sesama musisi. “Ketidakmautahuan seperti itu harus ditinggalkan.  Kalau dalam sehari-hari menormalisasi hal-hal seperti itu, akhirnya ketidakpedulian atas apa yang terjadi pada orang lain itu terus-menerus ada selama bukan kita yang kena,” ujarnya.

Musisi Muda Mulai Bersuara Kritis

Perihal musisi muda hari ini, menurut dia sudah mulai lantang mengkritisi pemerintah. Para musisi di lingkarannya mampu memahami pelbagai keresahan dari media sosial, dan menuangkan keresahannya juga melalui level dengan pengikut yang banyak. “Misalnya Baskara Putra atau Iga Barasuara itu sangat vokal. Jadi sebenarnya menyuarakan situasi yang terjadi di musisi-musisi muda itu lebih menjadi bahasa keseharian mereka. Bagi musisi-musisi yang sudah agak tua yang mungkin agak terlalu jarang untuk menyuarakan hal-hal politis gitu ya,” katanya.

Menurut dia, cara yang bisa dilakukan musisi jika ingin menyuarakan keresahan masyarakat namun kurang memahami isunya bisa dengan cara informal. “Berdiskusi, cerita-cerita, nongkrong-nongkrong. Lalu mereka mulai tergerak bahwa sebenarnya suara mereka bisa signifikan dalam situasi yang terjadi seperti ini. Kadang-kadang ketakutan-ketakutan bergerak untuk memasuki topik-topik yang mereka tak kuasai itu menjadi penghambat,” katanya.

Sebab sekecil apapun peran musisi untuk menyuarakan keresahan masyarakat, kata dia, musisi punya level yang besar sehingga sedikit-banyak akan sampai pesannya kepada masyarakat. 

Namun Cholil juga menyoroti dampak yang bisa saja muncul jika musisi dengan vokal mengkritisi pemerintah. Seperti Pemain Bas .Feast, Fadli Fikriawan, yang sempat viral karena melerai aparat kepolisian dan TNI dengan penonton dari atas panggung. “Keviralan membawa konsekuensi, misalnya banyak di-DM orang tak dikenal. Awan contohnya, mungkin bisa tabah dan kuat, tiarap dulu tak apa kalau sudah mendapatkan ancaman,” katanya.

Ia mengatakan sesama musisi bisa saling peduli dengan menanyakan kabar yang dianggap sedang terancam. “Ya perlu dibangun komunikasinya. Tapi saya pikir karena situasinya sudah parah banget sehingga sesuatu hal yang kemarin-kemarin itu tak berani kami lakukan, ya keluar juga,” tutur Cholil.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini