Cerita Petani di Indramayu soal Penurunan Harga Gabah: Tapi Tetap di Atas HPP

6 months ago 7

KETUA Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, menyatakan harga gabah yang dipanen petani saat ini menurun. Namun kalangan petani yakin harga gabah tetap akan tinggi hingga musim tanam gadu (kemarau) berakhir.

“Sekarang harga gabah sudah mulai turun. Tapi ya tetap tinggi, masih di atas harga pembelian yang ditetapkan pemerintah yaitu Rp 6.500 per kilogram,” tutur Sutatang, Kamis, 11 September 2025.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kini harga gabah kering panen dibeli seharga Rp 7.700 hingga Rp 7.800 per kilogram. Angka ini menurun dibandingkan sebelumnya saat harga gabah kering panen dihargai Rp 8 ribu hingga Rp 8.500 per kilogram. 

Menurunnya harga gabah tersebut, kata Sutatang, dikarenakan areal tanaman padi yang sudah panen sudah semakin banyak. “Areal tanaman padi yang panen semakin banyak, jadi sesuai hukum pasar, harga akan turun. Tapi memang masih di atas harga pembelian yang ditetapkan pemerintah,” ucapnya.  

Areal tanaman padi yang sudah panen di Kabupaten Indramayu tersebar di Kecamatan Bongas, Kecamatan CIkedung dan Kecamatan Terisi. Untuk luas arealnya sekitar 30 persen dari luas tanam di musim kemarau tahun ini yang mencapai 125 ribu hektare. Sementara areal tanaman padi yang panen diprediksi akan semakin banyak di akhir Oktober mendatang. 

“Kemungkinan tidak ada puncak panen atau panen raya,” tutur Sutatang. Pasalnya, ada sejumlah areal tanaman padi yang baru mulai tanam di musim tanam kedua (gadu) tahun ini yakni di Kecamatan Krangkeng, Sukra, Anjatan dan Patrol yang umur tanaman padinya baru sekitar 10 hingga 15 harian. “Petani di daerah tersebut memang mengalami keterlambatan tanam." 

Keterlambatan tanam disebabkan daerah-daerah tersebut berada di ujung irigasi pertanian, baik yang berasal dari Waduk Jatigede maupun yang berasal dari Waduk Jatiluhur. Berada di ujung irigasi menyebabkan akan mengalami keterlambatan untuk sampai ke wilayah mereka. “Saat ini hampir setiap bulan ada saja petani yang panen. Kemungkinan panen masih terjadi hingga Desember 2025 mendatang,” kata Sutatang.

Harga Gabah Tetap Tinggi 

Wakalupun semakin banyak petani yang melakukan panen Sutatang tetap yakin harga gabah tidak akan turun hingga mencapai harga pembelian pemerintah (HPP) yaitu Rp 6.500 per kilogram. “Kemungkinan harga gabah tidak akan turun di musim gadu ini,” tutur Sutatang. Kondisi ini berkaca pada tahun-tahun sebelumnya dimana harga gabah di musim gadu akan lebih mahal dan tidak akan turun drastis seperti di panen musim rendeng (penghujan) lalu. 

Kondisi ini dikarenakan kualitas gabah di panen gadu yang lebih bagus dibandingkan kualitas gabah di musim rendeng. “Gabah yang dipanen di musim gadu lebih kering dan lebih cepat kering saat di jemur. Sebab kadar airnya lebih rendah dibandingkan gabah yang dipanen di musim rendeng,” tutur Sutatang. 

Selain itu, menurut dia, di panen gadu ini petani tidak akan menjual hasil panen sekaligus. Kondisi ini tentu berbeda dengan panen rendeng, dimana hampir semua petani menjual gabah yang dipanennya saat itu untuk digunakan sebagai modal tanam kembali. “Petani baru akan menjual gabah saat butuh. Disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” katanya. 

Adapun penyimpanan sebagian gabah hasil panen di musim gadu oleh petani untuk mengantisipasi musim tanam berikutnya masih cukup lama. Petani yang sudah panen awal September ini, misalnya, baru akan melakukan tanam lagi sekitar November, Desember hingga Januari 2026 mendatang. “Berarti kan masa tanam masih lama. Jadi mereka hanya menjual sesuai kebutuhan dan baru akan menjual lebih banyak saat akan memulai tanam lagi." 

Musim Tanam Ketiga

Sementara itu dari Kabupaten Cirebon dilaporkan bahwa harga gabah juga masih tinggi. Ketua Himpunan Kerukutan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar menjelaskan bahwa sejumlah areal pertanian di Kabupaten Cirebon juga sudah mengalami panen. “Paling banyak di wilayah Cirebon timur yang sudah melakukan panen,” ucapnya. 

Areal pertanian yang sudah melakukan panen di wilayah Cirebon timur diantaranya tersebar di Kecamatan Babakan, Ciledug, Gebang dan Pasaleman. Bahkan sejumlah petani di wilayah timur Kabupaten Cirebon tersebut kini telah melakukan musim tanam (MT) ke tiga. “Ada sekitar 8 ribuan hektar pertanian di wilayah timur yang kini bahkan sudah melakukan tanam ketiga,” tutur Tasrip. 

Tingginya harga gabah, kering panen (GKP) yang mencapai Rp 7.300 hingga Rp 7.500 per kilogram dan gabah kering giling (GKG) menjadi daya tarik petani untuk melakukan tanam ketiga. “Selain itu ditunjang pula oleh hujan yang masih sering turun," katanya. 

Sebenarnya, musim tanam ketiga tidak dianjurkan untuk petani di wilayah timur Kabupaten Cirebon karena ketiadaan aerial belum mencukupi. “Selain itu juga menimbulkan permasalahan baru, diantaranya ketersediaan pupuk,” tutur Tasrip. Namun ia juga berharap musim tanam ketiga yang dilakukan petani di wilayah timur kabupaten Cirebon bisa terselamatkan mengingat saat ini hujan masih turun dan ketersediaan aerial di Waduk Darma masih mencukupi. 

Selain di wilayah timur, areal tanaman padi di wilayah barat seperti wilayah Ciwaringin dan Klangenan juga sudah mulai panen. Puncak panen padi di Kabupaten Cirebon diprediksi terjadi akhir Oktober hingga November 2025 mendatang dan Tasrip pun yakin harga gabah tetap akan tinggi.  

Read Entire Article









close
Banner iklan disini