DEWAN Kesenian Jakarta melakukan aksi solidaritas kepada masyarakat yang memperjuangkan demokrasi sekaligus belasungkawa atas kepergian Affan Kurniawan dan korban lainnya dalam aksi massa 28-31 Agustus 2025 di Indonesia. Aksi bertajuk Seni Lawan Tirani itu pun melakukan mimbar bebas, aksi teatrikal, pembacaan puisi, orasi, sajian musik, hingga mural di Plaza Taman Ismail Marzuki pada Senin, 1 September 2025.
Pilihan Editor:Suara Bisu Korban Kerusuhan Mei 1998
Aksi Seniman Melawan Tirani
Ratusan seniman berkumpul pada siang menjelang sore itu mengelilingi panggung kecil tempat lebih dari 50 seniman dari pelbagai lintas disiplin menyampaikan orasi, puisi, sajian musik, hingga mural. Penyair Fikar W. Eda melaksanakan aksi musikalisasi puisi diiringi dengan alat musik daerah suling dan gendang. Sementara musisi dan penulis Reda Gaudiamo membawakan beberapa lagu, di antaranya lagu-lagu kebangsaan seperti Indonesia Pusaka.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Vokalis Efek Rumah Kaca Cholil Mahmud menuturkan karya-karya seniman tak lain adalah laku hidup itu sendiri, sehingga harus merespons situasi yang terjadi termasuk penindasan dan konflik dengan negara. “Karena memang di negara yang sudah maju demokrasinya, kontestasinya juga tarik-menarik apalagi di negara kita yang baru. Jadi diharapkan seniman dpunya kepekaan dan dialektika,” katanya.
Penulis sekaligus musisi Reda Gaudiamo dalam mimbar bebas bertajuk Seni Melawan Tirani di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1 September 2025. Tempo/Martin Yogi Pardamean
Penulis Dea Anugrah juga mengatakan negara mengambil waktu masyarakat hingga pada hal yang personal, termasuk waktu yang seharusnya dihabiskannya bersama anaknya. Mengenai gerakan massa saat ini, ia merasa tak masalah jika aksi massa punya gerakan tanpa kepemimpinan. “Gerakan tanpa kepemimpinan itu jadi keuntungan buat kita. Karena macam-macam, ada orang yang mendapatkan kesadaran kelasnya saat menarik ojek atau bahkan di tribun saat menonton sepak bola,” katanya.
Keresahan kepada Pejabat
Penyanyi Kunto Aji menuturkan keresahan masyarakat sudah menggunung melihat perilaku pejabat, khususnya anggota DPR berbicara seolah tak ada konsekuensi. “Ya, para artis itu sebaiknya dicopot dari partainya diganti karena nonaktif saja itu tak ada ya. Itu sudah konsekuensi dengan apa yang mereka buat mau itu artis atau apa, anggota dewan bukan priyayi,” katanya.
Ia juga menyampaikan keresahan dengan para musisi yang takut menyuarakan permasalahan saat ini padahal punya level dengan pengikut yang banyak. “Maksudnya kita tak akan kehilangan pekerjaan, pendengar, atau apapun. Pemerintah selalu silih berganti kok jadi jangan takut kalau berada di posisi yang benar. Seniman itu ada motivation kompasnya bikin karya jadi penting untuk bersuara,” katanya.
Sementara penyanyi Endah Widiastuti menuturkan aksi Seni Lawan Tirani membuktikan bahwa seniman masih bisa bersuara. Melalui seni, kata dia, mampu menggerakkan hati masyarakat, hati orang yang tak peduli. “Ketika seni bisa menjadi alat mereka yang berkuasa, mengapa tak bisa menjadi alat untuk menumbangkan mereka. Saya di sini mewakili mereka yang takut, tapi mudah-mudahan kita di sini sama-sama bisa membuktikan bahwa seni bisa melawan tirani,” katanya.
.png)
6 months ago
8










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



