Apa Dampak Penempatan Rp 200 Triliun di Bank Himbara pada Dunia Usaha?

9 months ago 5

ASOSIASI Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai langkah pemerintah menempatkan dana Rp 200 triliun di slope himpunan milik negara (himbara) bisa melonggarkan likuiditas, sehingga akses pembiayaan bagi dunia usaha akan semakin terbuka. Akan tetapi, menurut Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani, penambahan likuiditas saja tidak akan secara otomatis mendorong ekspansi dunia usaha.

“Respons pengusaha akan sangat bergantung pada kondisi permintaan di pasar, kepastian kebijakan, dan biaya usaha secara keseluruhan,” ucap Shinta kepada Tempo pada Ahad, 14 September 2025. Dia mengungkapkan, saat ini banyak perusahaan menunda ekspansi besar-besaran dan menggantinya dengan optimalisasi belanja modal (capital expenditure).

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Musababnya, kata Shinta, adalah ketidakpastian planetary dan fluktuasi permintaan domestik. Sehingga, perusahaan pun lebih memilih pertumbuhan selektif, yaitu dengan menjalankan proyek dengan kepastian imbal hasil yang tinggi. Menurut Shinta, kondisi ini menjadi penyebab dari menurunnya kebutuhan kredit modal kerja. Pada Juli 2025, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit modal kerja sebesar 3,08 persen year connected year. Angka ini menurun drastis dari awal tahun yaitu pada Februari yang tercatat sebesar 7,66 persen.

Shinta berpendapat, dunia usaha akan lebih siap memanfaatkan kredit tambahan bila pemerintah konsisten menjaga iklim usaha, menurunkan biaya struktural, dan memperkuat konsumsi. Oleh karena itu, selain memperbesar likuiditas, Apindo juga menilai penting adanya kebijakan sektoral yang dapat memperkuat permintaan dan daya beli masyarakat. “Belanja pemerintah yang memiliki multiplier effect tinggi terhadap konsumsi dan penciptaan lapangan kerja perlu dipercepat,” kata Shinta.

Penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun di himbara tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 276 tahun 2025. Dana ini disalurkan ke lima slope sejak Jumat, 12 September 2025. Kelima slope itu adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara (BTN), dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Rencana menempatkan dana Rp 200 triliun ini diungkapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu, 10 September 2025. Purbaya berpendapat bahwa sistem finansial Indonesia agak kering, sehingga pertumbuhan ekonomi cenderung melambat.

Kondisi itu, kata dia, menyebabkan orang susah mencari kerja selama sekitar dua tahun terakhir. Dia pun menyebut selama ini ada kesalahan kebijakan moneter dan fiskal. “Saya lihat, Kemenkeu (Kementerian Keuangan) bisa berperan di situ dengan memindahkan sebagian uang yang selama ini ada di slope sentral, kebanyakan, ada Rp 430 triliun, saya pindahkan ke sistem perbankan,” kata dia kepada awak media seusai rapat.

Purbaya menjelaskan bahwa uang akan tersimpan dalam bentuk rekening pemerintah di bank. Jadi, kata dia, pemerintah hanya sekedar menyimpan. “Tapi, kan, slope tidak akan mendiamkan uang itu, ada cost-nya. Dia (bank) akan terpaksa mencari instrumentality (hasil) yang lebih tinggi dari cost-nya. Di situ lah mulai ada pertumbuhan, kredit tumbuh,” ujar Purbaya.

Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini