Amerika Serikat Blokir Upaya Akuisisi Perusahaan Teknologi oleh Investor Tiongkok

6 months ago 2

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintahan Presiden Donald Trump dinilai telah memperjelas satu hal: Amerika Serikat (AS) tidak akan lagi menyerahkan keamanan, ekonomi, atau masa depan teknologinya.

Dikutip dari The Hill pada Sabtu (20/9/2025), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan beberapa hari lalu, bahwa Pentagon akan menutup programme Microsoft yang selama ini mengandalkan warga negara Tiongkok untuk membantu mengelola lingkungan unreality pertahanan yang sensitif.

Hal ini dinilai menutup celah pintu belakang bagi para insinyur Tiongkok ke information militer AS.

Keputusan itu muncul bersamaan dengan tindakan keras pemerintah terhadap Huawei, perusahaan Tiongkok, yang menguasai  hampir sepertiga  pasar peralatan 5G planetary — lebih banyak daripada perusahaan lain mana pun.

Sebagai perbandingan, gabungan seluruh perusahaan AS hanya menguasai 21 persen. 

Untuk melawan ancaman tersebut, Gedung Putih menyetujui merger Hewlett Packard Enterprise-Juniper Networks.

Langkah yang merupakan desakan komunitas intelijen sebagai strategi penting bagi kepentingan keamanan nasional AS.

Pada Juli 2025, Gedung Putih juga memblokir Suirui International yang berbasis di Hong Kong untuk membeli Jupiter Systems dari California — sebuah kesepakatan yang akan menyerahkan kendali kepada Beijing atas peralatan audiovisual yang digunakan dalam pertahanan dan infrastruktur penting.

Intrusi Siber

Di masa lalu, transaksi semacam itu seringkali luput dari perhatian.

Namun, kini, Komite Investasi Asing di Amerika Serikat telah menjadi jauh lebih waspada, menutup celah hukum, dan memastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang didukung negara Tiongkok tidak dapat memasuki pasar-pasar sensitif.

Secara keseluruhan, tindakan-tindakan ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memutus kemampuan Tiongkok menyusup ke AS melalui kontrak perangkat lunak, merger perusahaan, dan akuisisi diam-diam.

Gedung Putih memahami bahwa di Tiongkok, batasan antara bisnis dan negara tidak didefinisikan dengan jelas. Perusahaan seperti Huawei dan Suirui digunakan oleh Beijing untuk memajukan kepentingan nasional Tiongkok dengan mengorbankan nilai-nilai dan tujuan Amerika.

Dengan melawan balik, cabang eksekutif tidak mengubah AS menjadi Tiongkok, tetapi mengakui bahwa bisnis di sektor sensitif seperti teknologi memiliki implikasi bagi keamanan nasional Amerika. 

Selama kampanye presiden 2024, peretas Tiongkok disebut menyasar ponsel Presiden Trump dan Wakil Presiden JD Vance. 

Patriotisme Amerika

AS akhirnya mulai merespons dengan cara yang sama, memperlakukan Beijing bukan sebagai aktor negara biasa, melainkan sebagai pesaing yang bermusuhan dan mengeksploitasi keterbukaan masyarakat bebas.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini