Pengamat Unej Dorong Bondowoso Punya Pusat Kopi Bermerek agar Jadi Ibu Kota Kopi Indonesia

6 months ago 6

Bondowoso (beritajatim.com) – Pengamat kebijakan publik Universitas Jember (Unej), Hermanto Rohman, menilai Bondowoso membutuhkan Branded Center of Coffee atau pusat kopi bermerek agar mampu mewujudkan cita-cita sebagai ibu kota kopi di Indonesia.

Menurutnya, langkah itu bisa diwujudkan dengan memperkuat programme Bondowoso Republik Kopi (BRK) sehingga tidak berhenti hanya sebagai slogan.

“Yang perlu dieksplorasi justru wilayah hulu, bukan hanya kota,” ujar Hermanto dikonfirmasi BeritaJatim.com, Jumat (12/9/2025).

Ia menekankan, penyelenggaraan Festival Kopi Nusantara (FKN) sebaiknya digelar di kawasan ground pertanian kopi, bukan hanya di pusat kota. Dengan melibatkan petani di hulu, festival akan memberi nilai tambah bagi masyarakat dan tidak sekadar menjadi ajang hiburan atau formalitas.

Hermanto mencontohkan, kegiatan inti bisa ditempatkan di Kecamatan Sumberwringin yang merupakan sentra kopi, sementara aktivitas pendukung tetap berlangsung di kota. “Festival ini seharusnya benar-benar menjadi milik rakyat, agar semua ikut merasakan manfaatnya,” jelasnya.

Menurutnya, Sumberwringin layak dikembangkan sebagai tuan rumah FKN berikutnya karena berdekatan dengan perkebunan kopi sekaligus terhubung dengan kawasan Ijen Geopark. “Menjadikan Sumberwringin magnet kopi sekaligus magnet Ijen Geopark akan memberi dampak ekonomi besar bagi Bondowoso,” ujarnya.

Selain kopi, kawasan ini juga memiliki potensi lain seperti kerajinan batik dan konsep kampung kopi yang menyatu dengan kehidupan warga. Bahkan, aset milik pemda di wilayah tersebut bisa dioptimalkan untuk mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi.

Hermanto menilai pemerintah daerah masih kurang berdialog dengan petani maupun prosesor kopi. Padahal, mereka menguasai pengetahuan teknis tentang produksi, pasar, dan kualitas.

“Organisasi perangkat daerah (OPD) hanya tahu information makro yang belum tentu sesuai kondisi lapangan. Pemerintah harus mempertemukan kelompok petani, terutama prosesor, dengan calon pembeli melalui kontrak farming,” tuturnya.

Ia juga mendorong Pemkab Bondowoso berperan sebagai offtaker kopi, bukan hanya menyerahkan pasar kepada eksportir atau pedagang besar. Dengan langkah itu, pemerintah bisa menjamin pemasaran hasil panen sekaligus meningkatkan nilai tambah kopi Bondowoso.

Dalam jangka panjang, Hermanto melihat peluang besar dari konektivitas pariwisata Ijen. Jalur penerbangan Bali–Jember bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuk strategis bagi wisatawan sekaligus pasar kopi.

“Bondowoso bisa menjalin kerja sama dengan Pemda Jember sehingga destinasi Ijen tidak hanya didominasi paket wisata dari Banyuwangi,” pungkasnya. [awi/ian]

Read Entire Article









close
Banner iklan disini