Blitar (beritajatim.com) – Dalam sebuah ziarah yang khidmat dan sarat makna, Kartika Sari Dewi Soekarno kembali menjejakkan kakinya di Bumi Blitar. Di sana, di pusara sang ayah, Proklamator RI, Ir. Soekarno, ia menumpahkan kerinduan yang telah lama bersarang di hati.
Ini bukan sekadar kunjungan, melainkan sebuah kisah rindu yang terpatri dan refleksi mendalam tentang warisan sang Bapak Bangsa. Di hadapan pusara sang ayah, Kartika tak mampu menyembunyikan luapan emosinya. Ia mengungkapkan betapa Blitar memiliki tempat yang sangat istimewa di hatinya, sebuah ikatan yang telah terjalin sejak ia masih balita.
Ya, Kartika Sari pertama kali datang ke Blitar saat usia 3 tahun. Kini setelah sekian lama ia kembali menemui sang ayah untuk melepas segala kerinduannya.
Kartika Sari merupakan anak dari pernikahan Soekarno dengan istri keenam yakni Ratna Sari Dewi Soekarno, seorang wanita Jepang. Diketahui Kartika Sari Dewi lahir di Tokyo pada 11 Maret 1967.
Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Kartika Sari baru bertemu dengan sang ayah Bung Karno pada usia 3 tahun. Kartika pun disebut hanya sekali bertemu dengan Bung Karno karena kondisi kesehatan sang Proklamator yang terus memburuk.
Hal itulah yang membuat kerinduan Kartika kepada Bung Karno begitu besar. Hingga akhirnya mendorong dirinya untuk datang ke Blitar untuk menyapa Bung Karno dalam keabadian.
“Wah, Blitar memang selalu punya tempat khusus di hati ya. Datang ke sana sejak umur 3 tahun pasti banyak kenangan dan emosi yang campur aduk. Aku bisa merasakan betapa pentingnya momen ini, apalagi untuk berdoa memohon maaf dan dukungan dari Papa. Semoga semua harapanmu terkabul, dan Kartika Sari Foundation terus memberikan manfaat bagi banyak orang,” ucap Kartika usai berziarah ke makam ayahandanya pada Minggu (14/09/2025).
Kebanggaan pada Sang Pelopor Kemerdekaan
Saat menabur bunga di atas makam, Kartika kembali merayakan kebanggaan atas legasi ayahnya. Soekarno, sang pelopor yang tidak hanya memerdekakan Indonesia, tetapi juga menjadi mercusuar bagi bangsa-bangsa di Asia Tenggara.
“Salah satu pejuang kemerdekaan terpenting abad ke-20. Berkat dia dan pahlawan kemerdekaan lainnya seperti Sutan Syahrir dan Bung Hatta, Indonesia adalah negara pertama yang memproklamasikan kemerdekaannya setelah Perang Dunia ke-2. Dan kami menginspirasi banyak negara lain di Asia Tenggara untuk merdeka. Jadi, saya sangat bangga dengan warisannya.” imbuhnya.
Menatap Masa Depan: Inklusi Sosial Jadi Kunci
Setelah merenungi masa lalu, pandangan Kartika beralih ke masa depan Indonesia. Ia merasa bangga dengan pencapaian Indonesia di kancah global, seperti perannya di BRICS, ASEAN, dan PBB, serta kemajuan di berbagai sektor industri dan teknologi. Namun, di tengah kebanggaan itu, ia menitipkan sebuah harapan besar.
“Saya berharap akan ada lebih banyak inklusi sosial untuk pendidikan dan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya penuh harap.
Harapan ini ia kaitkan dengan kebutuhan akan kepemimpinan politik yang melayani rakyat. Menurutnya, kemajuan bangsa harus diukur dari seberapa merata kesejahteraan dirasakan oleh warganya.
“Aku juga berdoa untuk kedamaian, dan aku berharap kita akan memiliki politisi yang akan melayani negara demi inklusi sosial yang lebih baik bagi rakyat Indonesia. Semoga harapan kita semua terwujud ya!” tutupnya.
Kunjungan Kartika Soekarno kali ini menjadi sebuah pesan kuat: bahwa mengenang sejarah adalah pondasi, namun memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat adalah esensi sejati dari cita-cita kemerdekaan itu sendiri. [owi/aje]
.png)
6 months ago
3










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



