Malang (beritajatim.com) – Inovasi datang dari sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berhasil menciptakan solusi kreatif untuk membantu anak berkebutuhan khusus (ABK). Melalui media bernama “ScrapSculpt”, mereka mengubah sampah plastik daur ulang menjadi alat pembelajaran efektif untuk mengatasi kesulitan membedakan huruf.
Program yang dijalankan di SD Muhammadiyah 9 Malang ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM). Tim yang terdiri dari mahasiswa Program Studi PGSD ini digawangi oleh Nadia Aurellia Rahmadani, Lusyana Agustin, Tarisa Cindy Fatmawati, dan Fenni Amelia Wijaya, dengan bimbingan dari dosen Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd.
Inovasi ini lahir dari keprihatinan mereka terhadap media pembelajaran yang seringkali tidak spesifik untuk ABK. Padahal, banyak dari mereka menghadapi tantangan unik, terutama dalam membedakan persepsi huruf (distingsi huruf), yang menjadi fondasi penting dalam proses membaca.
“Kami ingin memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memudahkan anak-anak dalam mengenal huruf. Dengan memanfaatkan plastik sebagai bahan media pembelajaran, kami juga berusaha menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini,” ungkap Nadia Aurellia Rahmadani, ketua tim, Kamis (4/9/2025).
Metode Mnemonik yang Menyenangkan
Sejak Juli 2025 lalu, tim ini telah aktif mendampingi 18 siswa ABK dan empat guru pendamping di SD Muhammadiyah 9 Malang. Metode ScrapSculpt ini mengintegrasikan strategi mnemonik, yaitu sebuah teknik untuk membantu mengingat informasi dengan mengaitkannya pada gambar, cerita, atau asosiasi yang konkret dan mudah diingat.
Bagi ABK yang sering kesulitan memproses informasi abstrak, mnemonik mengubah huruf yang sulit menjadi sesuatu yang lebih nyata dan bermakna. Pembelajaran dilakukan melalui beberapa tahap: Pengenalan konsep dasar huruf menggunakan media ScrapSculpt. Pembelajaran kontekstual dengan mengaitkan huruf pada benda-benda di sekitar siswa.
Salah satu siswa saat mencoba ScrapSculpt (Foto: Istimewa)“Siswa diajak melakukan permainan edukatif berbasis mnemonik untuk memperkuat daya ingat. Kemudian mereka juga bisa refleksi bersama untuk mengevaluasi efektivitas kegiatan,” ujar Nadia.
Dukungan Penuh dan Rencana Berkelanjutan
Kehadiran programme ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Kepala SD Muhammadiyah 9 Malang, Arip Hidayat, M.Pd.I., memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, ScrapSculpt menjadi sarana pembelajaran alternatif yang sangat mendukung kebutuhan siswa, sejalan dengan komitmen sekolah dalam menyediakan pendidikan inklusif.
Program ini tidak berhenti pada implementasi. Tim PKM-PM telah merencanakan monitoring perkembangan siswa, evaluasi program, hingga penyusunan buku pedoman yang bisa menjadi acuan bagi guru pendamping khusus lainnya.
Dosen pembimbing, Dyah Worowirastri Ekowati, menambahkan bahwa programme ini adalah cerminan nyata kontribusi mahasiswa dalam menjawab permasalahan di masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mempraktikkan pengetahuan mereka untuk menjawab permasalahan di masyarakat,” tuturnya. (dan/kun)
.png)
6 months ago
7










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



