Krisis Lingkungan Mengancam, Unisma Pimpin Aksi Lewat Konferensi Bioteknologi Internasional

6 months ago 3

Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar The 1st International Conference connected Biological Technology for Sustainable Nature (BioTESta 2025), Sabtu (20/9/2025). Acara yang mempertemukan para pakar dari berbagai negara ini menjadi wujud nyata komitmen Unisma dalam upaya pelestarian alam untuk menjawab tantangan krisis keanekaragaman hayati yang semakin serius.

​Konferensi yang berlangsung di gedung B lantai 7 Unisma ini merupakan implementasi langsung dari nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Juli lalu.

​Rektor Unisma, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D., menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan sebuah gerakan.

​“Konferensi ini adalah bentuk komitmen Unisma terhadap pelestarian lingkungan. Pada akhir Juli lalu, Pak Menteri mengundang 42 rektor terpilih se-Indonesia untuk menandatangani MoU agar perguruan tinggi mendukung penuh upaya pemerintah menjaga kelestarian alam. Ini adalah implementasi pertama kami,” jelas Prof. Junaidi pada Beritajatim.com, Sabtu (20/9/2025).

Foto BeritaJatim.comSuasana The 1st International Conference connected Biological Technology for Sustainable Nature di Unisma. (Foto: Dani Alifian/Beritajatim.com)

​Rektor Unisma menyoroti kondisi genting yang dihadapi Indonesia. Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil, Indonesia menghadapi ancaman serius seperti deforestasi yang mencapai 10 juta hektare dalam dua dekade terakhir dan kerusakan terumbu karang.

​“Visi kita untuk hidup harmonis dengan alam pada tahun 2050 adalah sebuah ambisi yang esensial. Bagi Indonesia, ini bukan hanya janji, tetapi sebuah tanggung jawab,” tegasnya.

Untuk membahas tema “Probing Valuable Bio-Technology for Sustainable Nature”, Unisma menghadirkan jajaran pembicara kunci dari dalam dan luar negeri. Selain kehadiran menteri ​Lingkungan Hidup H.E Mr. Hanif Faisol Nurofiq dan Prof. Nour Athiroh dari Indonesia, hadir pula pakar internasional ternama.

​Mereka adalah Prof. Mulyoto Pangestu dari Australia, Assoc. Prof. Bin Huang dari Taiwan, Prof. Delvac Oceandy dari Inggris, Dr. Miao Guo dari King College London (UK), serta Prof. Anelie Petrissans dari Prancis, yang berbagi gagasan secara daring maupun luring.

​Conference Chair, Ahmad Syauqi menjelaskan bahwa tema konferensi sangat relevan dengan keunggulan riset di Unisma. Menurutnya, dua programme studi andalan, yakni Biologi dan Kedokteran, memiliki ground riset yang kuat pada pemanfaatan keanekaragaman hayati.

​“Di prodi Biologi, kekhasan kami adalah konservasi keanekaragaman hayati. Sementara di Fakultas Kedokteran, ciri khasnya adalah penelitian biodiversitas untuk kesehatan. Riset kami banyak berfokus pada pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan,” ungkap pria yang juga dosen Bioteknologi Dasar FMIPA Unisma.

​Ia mencontohkan beberapa penelitian yang dilakukan dosen Unisma, seperti pemanfaatan biji buah tertentu dan riset tiga jenis tumbuhan, termasuk pegagan, yang terbukti berpotensi untuk kesehatan jantung.

​“Dengan demikian, riset-riset ini tidak hanya berkontribusi untuk kebutuhan daerah, tetapi juga menjawab tantangan di tingkat nasional secara lebih luas,” katanya menutup. (dan/ian)

Read Entire Article









close
Banner iklan disini