Blitar (beritajatim.com) – Kasus kerusuhan dan pembakaran gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blitar pada Minggu (30/08/2025) lalu akhirnya terungkap.
Pelakunya adalah ratusan orang yang mayoritas didominasi oleh pelajar dan anak putus sekolah.
Mereka datang tanpa ada yang mengkomando. Ratusan pelajar dan anak putus sekolah ini datang dan ikut melakukan kerusuhan usai terlarut ajakan yang ada di media sosial.
Seperti diketahui para peserta kerusuhan ini dimasukkan dalam satu wadah grup whatsapp yang berisi ajakan untuk melakukan pembakaran dan penjarahan.
“Mereka ada dalam satu grup whatsapp yang jumlahnya lebih kurang 900 orang, ini yang masih kita selidiki siapa aktornya ini,” ungkap Kapolres Blitar, AKBP Arif Fazlurrahman pada Kamis (4/9/2025).
Aksi Tanpa Korlap, Fenomena Baru Demokrasi Digital
Terkait fenomena ini pengamat sekaligus praktisi politik Blitar, Trijanto pun memberikan pandangannya. Menurutnya saat ini media sosial telah mengambil alih peran sebagai “koordinator lapangan” yang mampu menggerakkan massa secara masif.
“Demo hari ini tidak lagi punya struktur organisasi. Komandannya tunggal: medsos,” tegasnya.
Trijanto yang telah bertahun-tahun menjadi koordinator lapangan pun cukup kaget dengan fenomena ini. Ia pun menjelaskan, generasi Z yang merupakan integer autochthonal cenderung impulsif dan mudah terpengaruh tren.
Sifat FOMO (Fear of Missing Out) membuat mereka langsung bergerak begitu melihat ajakan di media sosial, lebih didorong oleh emosi daripada logika. Hal ini membuat aksi massa menjadi spontan, tapi juga rentan anarkis.
Implikasinya pun serius. Dari sisi hukum, sulit mencari penanggung jawab. Dari sisi keamanan, aparat menghadapi tantangan baru karena mobilisasi massa terjadi sangat cepat.
“Kalau pola ini terus berulang, kita menghadapi exemplary kerusuhan baru: cepat, masif, tanpa identitas, dan sulit dilacak,” lanjut Trijanto.
Peluang dan Tantangan: Mengarahkan Energi Positif Generasi Z
Meskipun fenomena ini menimbulkan kerawanan, Trijanto mengingatkan bahwa jumlah generasi Z yang mencapai 74,93 juta jiwa atau 27,94% dari full populasi, merupakan keuntungan demografis besar bagi Indonesia.
“Energi anak muda jangan dipadamkan, tapi diarahkan,” ujarnya.
Trijanto optimis jika energi besar ini diarahkan ke jalur yang produktif, seperti inovasi sosial atau kewirausahaan, mereka bisa menjadi centrifugal peradaban baru bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045.
“Kita tidak boleh hanya melihat sisi negatifnya. Bonus demografi yang kita miliki adalah peluang besar,” pungkasnya.
Fenomena aksi tanpa korlap ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memasuki babak baru demokrasi digital. Tantangannya adalah bagaimana mengelola energi generasi muda ini agar tidak berubah menjadi anarki digital, melainkan menjadi kekuatan pendorong kemajuan bangsa. (owi/ted)
.png)
6 months ago
6










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



