Gresik (beritajatim.com)- Di epoch serba digitalisasi kesenian tradisional ludruk mulai terpinggirkan. Kesenian khas asli Jawa Timur hanya bisa disaksikan di sejumlah desa. Salah satunya di Desa Lundo, Kecamatan Benjeng, Gresik. Warga setempat menggelar ludruk usai tasyakuran sedekah bumi. Dipilihnya ludruk agar generasi muda tidak melupakan tradisi tersebut ditengah gempuran teknologi dan digitalisasi.
Berdasarkan catatan literasi sejarah, kesenian tersebut sudah ada sejak abad 12. Selanjutnya, terus berkembang hingga sekarang. Sayangnya ditengah epoch modern seperti sekarang. Hanya sedikit warga yang menggelar ludruk salah satunya di Desa Lundo.
Dengan antusias warga setempat berbondong-bondong menyaksikan ludruk Budhi Wijaya asal Jombang dengan mengambil cerita ‘Perawan Gunung Jati’. Sebelum pertunjukkan dimulai, diatas panggung pertunjukkan dihiasi aneka buah-buahan, dan sayur-mayur seperti kacang panjang, jagung maupun labu sebagai rasa syukur hasil pertanian yang melimpah.
Selain panggung pertunjukkan yang dihias. Meja tamu dekat panggung juga disediakan makanan tradisional sambil mendengarkan gamelan khas ludruk yang mengiringi pagelaran.
Semakin malam, alunan gamelan ludruk membuat warga semakin penasaran. Banyak warga berdatangan ingin melihat dari dekat lakon Perawan Gunung Jati. Sambil menggelar alas atau tikar. Orang tua maupun anak muda ingin menyaksikan alur cerita ludruk.
Sebelum pertunjukkan dimulai, 7 perempuan dengan mengenakan selendang kuning, dan jarik warna hitam menari diatas panggung sambil diiringi ‘Betoro Kolo’ (penguasa alam gaib) kepalanya dihias dupa selama 20 menit. Aroma dupa yang menyengat membuat pagelaran ludruk seolah-olah dibawa ke masa lampau.
Suara petasan serta aneka kembang api yang menyala menandai pertunjukkan akan dimulai. Bersamaan dengan itu 5 penari ngeremo berpakaian serba merah bergantian naik keatas panggung menari lemah gemulai dihadapan ratusan warga.
Kepala Desa (Kades) Lundo Nanang Sucipto mengatakan, seni ludruk ini digelar usai kegiatan sedekah bumi setiap tahunnya. Warga memilih kesenian tradisional supaya generasi muda sekarang tetap mengenal kesenian asli Jawa Timur meski ditengah epoch modern.
“Setiap tahun kami selalu menggelar kesenian tradisional bergantian. Tahun lalu wayang kulit sekarang ludruk,” katanya, Jumat (12/9/2025).
Dirinya juga mengapresiasi kebersamaan dan kekompakan warganya menggelar hajatan tradisional secara bergantian. “Tanpa kekompakan serta kerelaan menyisakan sedikit rejeki pertunjukkan ini tak mungkin bisa terwujud mengingat untuk sekali sewa lengkap kesenian ludruk biayanya besar,” ungkapnya.
Adanya pagelaran ludruk ini, dimanfaatkan pelaku UMKM yang menjajakan aneka makanan maupun minuman mengais rejeki hingga dini hari. “Alhamdulillah mas bisa membantu kebutuhan sehari-hari,” kata Soleh penjual gorengan.
Sementara itu, Ardi warga Desa Lundo menceritakan tiap tahun di daerahnya selalu ada pertunjukan tradisional usai acara kegiatan sedekah bumi. Biasanya digilir per dusun terserah kesenian apa yang diinginkan. “Setiap dusun bervariasi keseniannya ada yang wayang kulit, ludruk maupun lainnya,” pungkasnya. [dny/kun]
.png)
6 months ago
9










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



