Jombang (beritajati.com) – Peluh membasahi wajah Anik Rosyidah (45) ketika tubuhnya terdorong arus massa yang berjubel. Perempuan berkerudung itu hampir saja terhempas ke belakang. Namun semangatnya tidak surut. Ia kembali merangsek, menembus rapatnya badan-badan yang saling desak. Kali ini, tangannya berhasil meraih seikat sayuran dari gunungan hasil bumi.
Nafasnya terengah, tapi mata Anik berbinar. “Alhamdulillah, dapat juga,” gumamnya. Tak berhenti di situ, ia segera berlari kecil menuju gunungan lain yang dipenuhi gerabah. Saling dorong tak terelakkan. Laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak ikut berebut, seakan tak ingin pulang dengan tangan kosong.
Pagi itu, Sabtu (30/8/2025), di pertigaan Dusun Banjarkerep, Desa Banjardowo, Kecamatan/Kabupaten Jombang, ribuan warga larut dalam tradisi gerebek gunungan. Empat gunungan—berisi hasil bumi dan gerabah—diarak mengelilingi dusun sebelum akhirnya diperebutkan. Hiruk pikuk, teriakan, tawa, dan riuh tepuk tangan berpadu menjadi satu, menjadikan suasana semakin semarak.
Sebelum acara puncak, warga lebih dulu mengikuti karnaval budaya. Tiga RT berpartisipasi dengan dandanan yang mencuri perhatian. Ada yang meniru pakaian adat berbagai suku di nusantara, ada pula yang membawa lambang Garuda Pancasila. Sejumlah warga bahkan menari mengikuti irama musik di atas kendaraan hias, membuat penonton di sepanjang jalan bersorak kegirangan.
“Ini saya dapat sayuran, wadah, dan bakul. Alhamdulillah, tahun ini lebih tertib, tidak ada copet. Tahun kemarin banyak ponsel hilang. Harapan kami tahun depan bisa diadakan lagi,” ujar Anik sembari memamerkan hasil buruannya, senyum lebar tak lepas dari wajahnya.
Bagi warga, gunungan bukan sekadar rebutan benda. Ia simbol berkah dan kebersamaan. Kepala Dusun Banjarkerep, M. Chozin, menegaskan hal itu. “Tradisi ini rutin setiap tahun. Tujuannya bukan hanya meriahkan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, tapi juga untuk merekatkan kerukunan antarwarga,” ujarnya.
Ketika semua isi gunungan habis terbagi, langit siang di Banjarkerep masih menyisakan gema tawa. Warga pulang dengan tangan penuh, hati lega, dan harapan sederhana: agar tradisi ini terus hidup, menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah milik bersama, sebagaimana kebahagiaan yang mereka perebutkan dari gunungan. [suf]
.png)
6 months ago
6










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



