Tren Positif Kecelakaan Kerja Ternodai, Bukti K3 di Tuban Belum Maksimal

5 months ago 2

TUBAN – Meski angka kecelakaan kerja di Kabupaten Tuban menunjukkan tren menurun dalam tiga tahun terakhir, nyawa pekerja tetap saja jadi taruhannya. Data Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian (Disnakerin) Tuban mencatat, sepanjang Januari–September 2025 masih ada 24 kasus kecelakaan kerja, dengan satu korban meninggal dunia.

“Dari full kasus, 13 terjadi di luar perusahaan dan sisanya di dalam perusahaan. Bahkan beberapa waktu lalu, satu pekerja dari pihak ketiga di perusahaan BUMN juga meninggal dunia,” ungkap Kepala Disnakerin Tuban, Rohman Ubaid, Jumat (26/9/2025).

Meski menurun dibanding 2023 (81 kasus) dan 2024 (80 kasus), fakta adanya korban jiwa memperlihatkan bahwa sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) masih rapuh. Ubaid menegaskan, Disnakerin hanya berwenang pada aspek pembinaan dan perlindungan pekerja, sementara investigasi kecelakaan kerja sepenuhnya menjadi kewenangan pengawas ketenagakerjaan Provinsi Jawa Timur.

“Perusahaan yang tidak melaporkan kecelakaan akan mendapat sanksi, mulai teguran tertulis hingga hukuman lebih berat jika pelanggaran terulang,” tegasnya.

Sementara itu, Kasub Korwil Pengawas Ketenagakerjaan Tuban, Erny Kartikasari, menilai setiap kecelakaan adalah cermin adanya kondisi kerja yang tidak aman. Ia menegaskan, perusahaan wajib melaporkan kasus maksimal 2×24 jam agar penyebab dapat ditelusuri secara detail.

“Penerapan UU Nomor 1 Tahun 1970 pasal 3 soal keselamatan kerja adalah kewajiban. Kalau masih ada kecelakaan, berarti ada yang salah dalam penerapannya,” ujar Erny kepada Ronggo.id, Senin (29/9/2025).

Menurutnya, penurunan angka kecelakaan sekitar 30 persen dari dua tahun terakhir belum bisa disebut keberhasilan.

“Harapannya angka kecelakaan bisa ditekan lebih jauh bahkan tidak ada lagi kasus hingga akhir tahun,” tambahnya.

Pengawasan, kata Erny, tidak cukup hanya represif, tetapi juga preventif dan edukatif. Lemahnya kesadaran perusahaan dan pekerjakan akan pentingnya K3 menjadi benteng terakhir melawan maut menjadi momok tersendiri bagi dunia industrialisasi di Bumi Ronggolawe.

“Tanpa itu, angka kecelakaan hanya akan menjadi bom waktu yang menunggu saat meledak,” pungkasnya. (Hus/Tgb).

Read Entire Article









close
Banner iklan disini