TUBAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tuban kembali menuai sorotan. Dalam satu hari, dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi berbeda tercatat bermasalah serius, mulai dari ulat sayur dalam jatah makan hingga kasus keracunan yang membuat sejumlah siswa harus dirawat di rumah sakit.
Kasus pertama terjadi di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Rabu (24/9/2025). Setidaknya enam siswa kelas X SMK Palang mengalami gejala keracunan usai menyantap paper nasi goreng yang disediakan oleh SPPG setempat. Awalnya hanya tiga siswa yang menunjukkan gejala mual dan muntah sekitar pukul 13.00 WIB. Mereka segera dirujuk dari Puskesmas Palang menuju RSUD Dr. R. Koesma Tuban. Tak lama, dua siswa lain menyusul, disusul satu korban lagi sekitar pukul 15.30 WIB dengan kondisi lemas seperti pingsan.
Seorang siswa yang ikut mengantar temannya ke rumah sakit mengaku juga memakan lauk nasi goreng yang sama, namun tidak mengalami gejala.
“Saya ikut makan, tapi saya tidak ikut mual,” ujarnya singkat. Menurutnya, paper yang disajikan saat itu berupa nasi goreng dengan telur dan buah anggur.
Orang tua korban pun bereaksi keras. Juharti (50), ibu salah satu siswi yang keracunan, mengaku trauma dengan programme MBG Presiden Prabowo Subianto.
“Mending tidak usah ada, daripada membuat anak saya seperti ini. Dia muntah darah dan lemas,” ungkapnya dengan nada kesal.
Di hari yang sama, insiden berbeda ditemukan di SPPG Desa Mrutuk, Kecamatan Widang. Sejumlah siswa mendapati ulat sayur di dalam ompreng makanan yang dibagikan. Camat Widang, Suwarsono, membenarkan temuan tersebut meski kondisi ulat sudah mati.
Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Tuban, Roikan, mengonfirmasi kasus keracunan itu. Namun, ia meminta publik menunggu hasil pemeriksaan resmi dari pihak rumah sakit.
“Ditunggu hasil pemeriksaan rumah sakit dulu,” katanya singkat.
Sementara pihak SPPG belum memberikan keterangan resmi. Tim media yang mendatangi lokasi bahkan sempat menunggu berjam-jam, namun hanya mendapat jawaban bahwa Kepala SPPG masih rapat. Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola MBG masih terkesan menutup diri.
Rangkaian insiden ini memunculkan sejumlah pertanyaan mendasar, sejauh mana standar kebersihan dan pengawasan mutu makanan MBG dijalankan di Tuban? Apakah ada sistem audit ketat dari pemerintah daerah? Dan, mengapa respon dari pihak SPPG begitu lambat ketika publik menuntut penjelasan?
Kejadian ini menambah daftar panjang masalah dalam implementasi programme makan bergizi gratis. Jika dibiarkan, kepercayaan publik terhadap programme yang semestinya menyehatkan generasi muda bisa berubah menjadi ketidakpercayaan, bahkan penolakan. (Hus/Tgb).
.png)
5 months ago
2










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



