Retribusi Naik Berlipat Ditengah Lesunya Daya Beli, Pedagang Pasar Baru Tuban Menjerit

6 months ago 5

TUBAN – Suasana di Pasar Baru Tuban kini lebih banyak dipenuhi keluh kesah pedagang dibandingkan riuhnya tawar-menawar. Para pedagang mengaku tercekik akibat kenaikan tarif retribusi pasar hingga dua kali lipat, sementara daya beli masyarakat terus menurun.

Kenaikan retribusi mulai berlaku sejak Januari 2025. Namun, perubahan itu tidak diiringi dengan peningkatan fasilitas pasar yang masih tampak sama seperti sebelumnya.

Pantauan di lokasi pada Jumat (29/8/2025), terlihat banyak kios sepi pembeli. Para pedagang hanya duduk menunggu, berharap ada yang datang membeli dagangannya.

Salah seorang pedagang pakaian yang khawatir namanya ditandai oleh pejabat lantaran dinilai tidak mendukung programme pemerintah menyebut, jika kenaikan retribusi yang dilakukan Pemkab Tuban sangat mengeratkan.

“Dulu saya bayar Rp33.600 per kios, sekarang jadi Rp84.000. Kenaikan ini bukan cuma mencekik, tapi membunuh mata pencaharian pedagang,” keluh perempuan yang sudah 20 tahun menggantungkan hidupnya dari hasil penjualan pakaian ini.

Ia menuturkan, omzet penjualan kini merosot tajam. Setiap hari hanya mampu menjual 1–4 potong pakaian, bahkan di hari-hari tertentu tidak satupun barang yang laku.

“Kalau dulu sehari bisa sepuluh potong terjual. Sekarang, jangankan itu, kadang sehari tidak ada yang beli,” tambahnya.

Meski keberatan, ia terpaksa tetap membayar sesuai kenaikan tersebut karena khawatir bakal mendapat sanksi. Kendati begitu, sebagian pedagang lain disebut masih memilih membayar sesuai tarif lama.

Hal serupa juga datang dari Asri Ningsih, pedagang pakaian lainnya. Menurutnya, jika memang harus ada kenaikan, seharusnya dilakukan secara bertahap dan melihat kondisi ekonomi masyarakat.

“Kalau mau naik, ya sebaiknya bertahap. Jangan langsung melonjak tinggi begini, biar pedagang bisa menyesuaikan,” ujarnya.

Sementara itu, Rusmia atau akrab disapa Mia, mengaku kebingungan dalam mencari tambahan penghasilan. Bahkan ia sempat mencoba berjualan pakaian secara online, namun kurangnya kompetensi yang dimiliki serta persaingan yang dinilai sangat ketat membuatnya harus memupuskan harapan.

“Kalau di pasar, pembelinya kebanyakan ibu-ibu. Kalau online saingannya banyak dengan exemplary yang lebih kekinian,” jelasnya.

Mia menyebut para pedagang sempat memprotes kenaikan tarif retribusi pasar. Akan tetapi, sampai detik ini belum ada solusi nyata.

“Kami berharap pemerintah turun tangan, ada solusi yang adil. Jangan sampai pasar makin sepi dan pedagang gulung tikar,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban, Gunadi, belum memberikan tanggapan terkait keluhan para pedagang Pasar Baru.

Di tengah lapak-lapak yang semakin sepi ditambah dengan lesunya daya beli masyarakat, para pedagang kini hanya bisa berharap pemerintah segera turun tangan agar denyut perdagangan rakyat tidak benar-benar padam. (Hus/Tgb).

Read Entire Article









close
Banner iklan disini