Ratusan Juta Pembangunan Hutan Kota di Kerek Tuban, Kini Jadi Tempat Sampah

6 months ago 5

TUBAN – Hutan Kota Margomulyo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, yang digadang-gadang menjadi paru-paru hijau sekaligus ruang edukasi warga, kini bernasib ironis. Alih-alih hijau dan teduh, lahan konservasi seluas dua hektar itu berubah menjadi tempat pembuangan sampah (TPS) dadakan.

Padahal, kawasan tersebut dibangun dengan dana APBN 2016 sebesar Rp546 juta, terdiri dari Rp223 juta untuk pengadaan bibit tanaman dan Rp323 juta untuk pembangunan pagar keliling. Tujuannya jelas: menyediakan ruang terbuka hijau, sarana edukasi, dan country resapan aerial bagi warga sekitar.

Kini, cita-cita itu jauh panggang dari api. Pantauan di lokasi pada Senin (1/9/2025) menunjukkan tumpukan sampah menggunung, bahkan sebagian dibakar di tengah pepohonan. Kondisi ini bukan hanya merusak estetika, tetapi juga mengancam ekosistem yang seharusnya dijaga.

Agus warga setempat, tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya setelah melihat hutan kota yang dibangun dari anggaran pajak rakyat justru berubah menjadi hamparan sampah.

“Sangat disayangkan, Mas. Hutan kota seharusnya menyaring udara, menghasilkan oksigen, jadi tempat belajar. Tapi sekarang malah jadi tempat buang sampah,” ujarnya.

Senada dengan Agus, Sayid (32) menilai penggunaan lahan konservasi sebagai TPS sementara sangat merugikan masyarakat dan juga keuangan negara.

“Desa ini sering banjir kalau hujan deras. Kalau hutannya dipakai buang sampah, bagaimana pepohonan bisa menyerap air? Ini kebijakan yang salah kaprah,” tegasnya.

Keduanya berharap pemerintah dan masyarakat segera bergotong royong membersihkan lokasi, lalu mengembalikan fungsi hutan kota sesuai tujuan awal.

Dilain sisi, Kepala Desa Margomulyo, Wasi’un Alim, membenarkan sampah itu diarahkan ke Hutan Kota. Alasannya, untuk menunggu rampungnya pembangunan TPS modern.

“Itu saya sendiri yang mengarahkan, karena takut mengganggu pengerjaan tempat sampah baru. Sementara saja, sekitar tiga bulan,” ungkapnya.

Namun, dalih itu sulit diterima publik. Menjadikan kawasan konservasi hasil investasi ratusan juta rupiah sebagai TPS sementara hanya menambah persoalan baru: kerusakan lingkungan dan pemborosan anggaran negara.

Hutan Kota Margomulyo semula dirancang ditanami pepohonan peneduh seperti trembesi, johar, tanjung, kenari, hingga mauni, serta pohon produktif seperti matoa, lengkeng, dan rambutan. Selain itu, kawasan ini juga digagas sebagai ruang bermain, wahana belajar pelajar, sekaligus resapan aerial untuk mengurangi banjir.

Kini, semua itu hanya menjadi catatan di atas kertas. Ruang hijau yang seharusnya menjadi penopang kehidupan warga justru dikorbankan menjadi TPS dadakan.

Jika pembiaran terus terjadi, yang tersisa hanyalah ironi, ratusan juta rupiah uang rakyat dikucurkan untuk membangun hutan kota, namun hasilnya sekadar tempat buang sampah. (Hus/Tgb).

Read Entire Article









close
Banner iklan disini