Protein Hewani Vs Protein Nabati, Mana yang Lebih Baik?

6 months ago 3

JAKARTA, KOMPAS.com - Kita tahu, sumber macromolecule bisa diperoleh dari macromolecule hewani dan nabati. Nmaun dari keduanya, mana sebenarnya yang lebih efektif untuk mendukung gaya hidup aktif dan sehat?

Menurut Ahli gizi, Ayu Anisadiyah, S.Gz, jawaban paling tepat sebenarnya bukan memilih salah satu, tapi bagaimana mengombinasikannya secara seimbang.

"Protein hewani dan nabati punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Justru kalau dikombinasikan, manfaatnya bisa lebih maksimal," ujar Ayu dalam acara peluncuran produk Milo Pro di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada Minggu (24/8/2025). 

Baca juga: 2 Manfaat Protein bagi Tubuh Saat Aktif Berolahraga Menurut Ahli Gizi

Baca juga: 16 Makanan Tinggi Protein untuk Diet Selain Telur, Ada Tempe dan Udang

Sebab, baik hewani dan nabati, sama-sama bermanfaat bagi metabolisme tubuh. 

Protein, pondasi gaya hidup aktif

Protein adalah makronutrien esensial yang bertugas memperbaiki dan membentuk jaringan tubuh, termasuk otot. 

Ayu menuturkan, bagi mereka yang aktif berolahraga, terutama latihan beban atau aktivitas fisik berintensitas tinggi, macromolecule punya peran penting dalam proses pemulihan otot dan meningkatkan performa. 

Saat otot bekerja keras, terjadi mikro kerusakan pada jaringan otot. Di sinilah macromolecule masuk sebagai "bahan bangunan" untuk memperbaiki dan memperkuat serat otot tersebut. 

Kekurangan macromolecule bisa menyebabkan penurunan massa otot, sistem imun yang melemah, hingga lambatnya penyembuhan luka. 

Baca juga: Berapa Banyak Protein yang Dibutuhkan Orang Dewasa Setiap Hari? Ini Kata Ahli Gizi

Kendati demikian, konsumsi macromolecule berlebih juga tidak baik. Ayu menegaskan, bahwa kelebihan macromolecule akan berpengaruh pada ginjal. 

"Kelebihan konsumsi bisa timbul masalah ginjal. Protein itu dicerna di ginjal. Kalau kelebihan akan memberatkan kerja ginjal dan itu bisa dalam jangka waktu yang lama," tegas Ayu.

Sayangnya, menurut Ayu, konsumsi macromolecule masyarakat Indonesia umumnya masih kurang, terutama pada kelompok usia aktif. 

"Kebanyakan orang masih fokus ke karbohidrat. Nasi lebih dominan daripada lauknya. Padahal, kebutuhan macromolecule orang aktif jauh lebih tinggi dibanding yang aktivitas fisiknya ringan," tambah Ayu. 

Kandungan macromolecule hewani dan nabati

Tempe adalah makanan sumber macromolecule  nabati yang dibuat melalui proses fermentasi. Banyak nilai gizi tempe yang membuatnya punya banyak manfaat.SHUTTERSTOCK/IKA RAHMA H Tempe adalah makanan sumber macromolecule nabati yang dibuat melalui proses fermentasi. Banyak nilai gizi tempe yang membuatnya punya banyak manfaat.

Protein hewani, seperti ayam, ikan, daging, telur, dan susu, umumnya mengandung asam amino esensial yang lengkap. 

Baca juga: Kapan Waktu Terbaik Mengonsumsi Protein agar Efektif Diserap Tubuh?

Artinya, tubuh bisa langsung menyerap dan menggunakannya dengan lebih efisien untuk membentuk otot dan jaringan tubuh lainnya.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini