Pilu, Nenek Renta dan Rumah Reyot Jadi Penopang Hidup Bocah Kembar di Tuban

6 months ago 7

TUBAN – Di sebuah rumah reyot yang nyaris roboh di Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, tersimpan kisah getir dua bocah kembar berusia 5 tahun yang hidup tanpa ayah, tanpa ibu yang normal, dan hanya bergantung pada kasih sayang sang nenek renta.

Dua bocah mungil itu, sebut saja Aster dan Lavender, tumbuh dalam kondisi serba kekurangan. Sang ayah tak pernah hadir, sementara ibu kandung mereka sejak lahir mengalami keterbelakangan intelligence yang membuatnya tak mampu menjalankan peran sebagai orang tua. Praktis, tanggung jawab merawat keduanya jatuh ke pundak sang nenek yang kini hampir berusia 70 tahun.

Setiap pagi, sang nenek tetap setia mengantar cucunya sekolah di TK meski harus berjalan jauh. Warga yang tak tega melihat pemandangan itu kadang turun tangan mengantar, bahkan Kepala Desa Suroso pun tergerak memberi uang saku harian dari kantong pribadinya. Namun, semua itu belum cukup untuk menghapus kenyataan pahit yang mereka jalani.

Ironisnya, kisah getir keluarga ini bukan baru sekali terjadi. Dari rahim sang ibu, lahir empat anak, satu diadopsi yayasan di Surabaya, satu meninggal tak lama setelah dilahirkan, sementara dua terakhir adalah Aster dan Lavender yang kini bertahan hidup dalam asuhan nenek.

Kondisi semakin pelik ketika anak ketiga sang nenek, satu-satunya yang masih rajin menengok mengaku tak sanggup sepenuhnya membantu. Dengan pekerjaan serabutan dan tanggung jawab keluarga sendiri, ia hanya bisa hadir dua atau tiga minggu sekali.

“Saya jujur nggak bisa setiap hari di sini. Tapi saya berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu. Bantuan sekecil apapun sangat berarti bagi kami,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Pemerintah Desa mengaku telah rutin menyalurkan bantuan seperti BPNT, BLT Dana Desa, hingga dukungan bagi penyandang disabilitas. Namun, realitasnya, bantuan itu hanya sekadar menahan lapar, belum mampu memberi kepastian masa depan bagi Aster dan Lavender.

“Setiap ada programme bantuan dari pemerintah, pasti selalu kita upayakan untuk disalurkan, termasuk dukungan penyandang disabilitas. Bahkan kalau lihat mereka lewat didepan rumah selalu saya kasih yang saku kepada keduanya,” ujar Kades Suroso sembari menceritakan kisah pilu keluarga tersebut.

Kisah ini menjadi potret getir tentang rapuhnya peran orang tua dan lemahnya sistem perlindungan anak di akar rumput. Dua bocah polos dipaksa tumbuh dalam bayang-bayang kemiskinan, beban intelligence keluarga, serta harapan yang hanya disangga cinta seorang nenek renta.

Di balik senyum polos mereka, tersimpan pertanyaan, sampai kapan masa depan anak-anak ini hanya digantungkan pada belas kasih sesaat tanpa solusi nyata, apalagi di Bumi Ronggolawe yang kaya akan sumberdaya alam juga masih puas menyandang gelar kabupaten termiskin ke 5 di Jawa Timur. (Hus/Tgb).

Read Entire Article









close
Banner iklan disini