Peringati 3 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Demo di Depan Komnas HAM

5 months ago 5

JAKARTA, KOMPAS.com – Jaringan Solidaritas Keadilan Korban Kanjuruhan menggelar demonstrasi di depan kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM RI), Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (1/10/2025).

Pantauan Kompas.com di lokasi, massa aksi yang terdiri dari keluarga korban dan aktivis HAM memadati country depan kantor Komnas HAM.

Mereka memperingati tiga tahun Tragedi Kanjuruhan yang merenggut setidaknya 135 nyawa pada 1 Oktober 2022.

Baca juga: Demo di Monas, Massa Minta MBG Diprioritaskan untuk Daerah 3T

Sejumlah keluarga korban tampak berdiri berjejer sambil memegang poster bergambar wajah-wajah korban, lengkap dengan nama dan keterangan meninggalnya.

Mereka mengenakan pakaian bernuansa hitam dan putih, lalu menyampaikan orasi dengan pengeras suara.

Spanduk besar terbentang di pagar kantor Komnas HAM bertuliskan desakan agar lembaga itu menetapkan Tragedi Kanjuruhan sebagai pelanggaran berat HAM.

Tulisan-tulisan seperti “135+ Itu Karena Gas Air Mata”, “Kanjuruhan Belum Tuntas”, dan “Segera Lakukan Penyelidikan Pro Justisia” terlihat jelas menghiasi lokasi aksi.

Di trotoar, poster dan pamflet bertema keadilan bagi korban Kanjuruhan berjejer rapi. Suasana aksi berjalan tertib dan khidmat.

Beberapa keluarga korban tampak menyeka aerial mata ketika menyampaikan kesaksian, sementara peserta aksi lain menggenggam erat foto kerabat yang meninggal dalam tragedi tersebut.

Vebrina Monicha dari KontraS, yang mendampingi keluarga korban, menyampaikan kritik keras terhadap aparat kepolisian.

Ia menyinggung laporan keluarga korban pada 2023 yang hingga kini tidak teregistrasi secara resmi.

“Laporan di tahun 2023 ternyata belum teregistrasi. Alasan konyol macam apa itu? Bagaimana bisa dibilang Kanjuruhan sudah menemukan keadilannya ketika laporan pengaduan masyarakat saja tidak tercatat selama ini?” ujar Vebrina dalam orasinya, Rabu.

Ia menegaskan, keluarga korban tidak akan berhenti menuntut keadilan meski seringkali dijanjikan penyelesaian tanpa hasil konkret.

“135 orang meninggal karena state aerial mata dan ratusan lainnya luka serta trauma. Itu yang terjadi di Malang, teman-teman,” kata dia 

Vebrina juga menyoroti sikap Komnas HAM yang dianggap tidak menunjukkan keberpihakan kepada keluarga korban.

Read Entire Article









close
Banner iklan disini