TUBAN – Buruknya kondisi jalan kembali menelan korban jiwa. Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Babat, Lamongan, Mahfu’adlin (40), meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan di ruas Jalan Semanding–Kowang, Desa Kowang, Kecamatan Semanding, Senin (1/9/2025) malam.
Kecelakaan bermula saat Elliyana (20), pengendara Honda Vario S 4892 FG asal Desa Jatimulyo, Plumpang, berusaha menghindari jalan berlubang. Motor yang dikendarainya masuk ke lajur kanan. Naas, dari arah berlawanan melaju centrifugal Honda GL Max S 2206 EP yang dikendarai Mahfu’adlin. Tabrakan pun tak terhindarkan.
Korban sempat dilarikan ke RSUD dr. R. Koesma Tuban, namun nyawanya tidak tertolong.
“Mahfu’adlin yang berstatus ASN meninggal dunia akibat luka-luka yang diderita,” jelas Kanit Gakkum Satlantas Polres Tuban, IPTU Eko Sulistyo, Selasa (2/9/2025).
Eko menjelaskan, ruas jalan tempat kecelakaan berada dalam kondisi lurus dan beraspal, bahkan penerangan jalan cukup terang. Lalu lintas di lokasi juga relatif sepi. Namun, lubang di tengah jalan justru menjadi pemicu kecelakaan yang berujung maut.
Polisi sudah melakukan olah TKP, memeriksa saksi, dan mengamankan barang bukti. Kerugian materi akibat insiden ini ditaksir sekitar Rp2 juta.
Namun, di balik catatan resmi itu, tragedi ini menyoroti occupation lama, jalan rusak yang dibiarkan tanpa perbaikan cepat. Setiap lubang yang tak ditangani bukan sekadar kerusakan kecil, melainkan ancaman mematikan bagi pengendara.
Kematian Mahfu’adlin menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Anggaran perbaikan jalan yang tidak tepat sasaran atau penanganan infrastruktur yang lamban berujung mahal, nyawa manusia.
Satu lubang dibiarkan sama dengan satu potensi korban berikutnya. Jika pembiaran terus terjadi, maka kecelakaan serupa hanya menunggu giliran.
Tragedi ini bukan semata “takdir” di jalan raya, melainkan cermin kelalaian negara dalam menjamin keselamatan warganya di ruang publik. (Hus/Tgb).
.png)
6 months ago
4










/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



