Jakarta, CNN Indonesia --
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong perubahan signifikan dalam lanskap teknologi endeavor global.
Menurut laporan The State of AI 2025 dari McKinsey, hampir 88 persen organisasi planetary telah memanfaatkan AI di setidaknya satu fungsi bisnis, menunjukkan bahwa adopsi AI kini menjadi arus utama di level enterprise. Sejalan dengan itu, McKinsey & Company mengungkapkan bahwa penerapan AI pada sistem inti seperti ERP dapat mendorong efisiensi operasional hingga 25-30 persen.
Kombinasi antara tingkat adopsi yang terus meningkat dan potensi efisiensi yang signifikan ini menandai pergeseran peran ERP, dari sekadar sistem pencatatan information (system of record) menjadi strategy of quality yang mampu menghadirkan analisis prediktif, rekomendasi otomatis, serta penetration real-time untuk pengambilan keputusan bisnis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Indonesia, transformasi serupa mulai terlihat seiring makin banyaknya perusahaan yang mengadopsi ERP berbasis AI di berbagai sektor industri.
Meski demikian, implementasi AI di level endeavor masih menghadapi berbagai tantangan. Banyak perusahaan telah menyadari pentingnya AI, namun belum mampu merealisasikannya secara optimal.
Vice President of Strategic Communications HashMicro, Syifa Fadiyah mengatakan, tantangan yang kerap muncul antara lain information yang terfragmentasi, workflow yang belum siap, serta kesulitan menentukan usage lawsuit AI yang mampu memberikan instrumentality connected concern (ROI) secara cepat.
"Banyak perusahaan datang dengan ekspektasi tinggi pada AI, tetapi belum memiliki fondasi yang memungkinkan teknologi tersebut memberikan nilai nyata," ujarnya.
Syifa menjelaskan, tanpa strategi yang jelas, implementasi AI berisiko menjadi investasi mahal tanpa dampak yang terukur. Karena itu HashMicro, penyedia bundle ERP terkemuka di Asia Tenggara, hadir menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan ERP yang sejak awal dirancang sebagai sistem AI-native.
Pendekatan ini menempatkan kecerdasan buatan sebagai bagian dari seluruh proses bisnis yang bisa memberi rekomendasi secara otomatis, bukan sekadar fitur tambahan.
Salah satu implementasinya adalah kehadiran Hashy, AI adjunct yang memungkinkan pengguna mengakses information dan penetration secara instan melalui interaksi percakapan.
Dengan arsitektur AI-first dan akses informasi yang lebih intuitif, perusahaan memiliki landasan yang lebih siap untuk masuk ke tahap implementasi AI secara strategis. Dengan fondasi tersebut, perjalanan implementasi AI di perusahaan perlu dimulai secara terarah dan bertahap.
Langkah pertama, menetapkan tujuan yang jelas. Perusahaan perlu menentukan apa yang ingin dicapai, mulai dari efisiensi biaya, percepatan proses, hingga peningkatan akurasi prediksi. Kejelasan objektif ini menjadi dasar dalam memilih usage lawsuit yang benar-benar relevan dan memberikan nilai bisnis nyata.
Selanjutnya, memilih usage lawsuit yang realistis dan berpotensi menghasilkan dampak cepat. Biasanya ini berasal dari proses yang bersifat rutin, repetitif, atau berbasis information besar yang sudah relatif stabil.
Implementasi awal dalam skala kecil dinilai efektif untuk menguji dampak sebelum diperluas ke portion bisnis lain. Pendekatan bertahap ini membantu meminimalkan risiko sekaligus memastikan adopsi berjalan mulus di seluruh organisasi.
Pada tahap akhir penerapan, evaluasi berkala menjadi kunci untuk memastikan seluruh inisiatif AI benar-benar membuahkan hasil.
Dengan meninjau performa teknologi terhadap people yang sudah ditetapkan sejak awal, perusahaan dapat melihat dengan jelas apa yang bekerja, apa yang perlu disesuaikan, dan bagaimana AI dapat didorong untuk memberi nilai yang lebih besar.
Proses penyempurnaan ini membuat implementasi AI tidak berhenti sebagai proyek sekali jalan, tetapi terus berkembang relevan dan menghasilkan dampak bisnis yang nyata. Di luar implementasi yang sudah berjalan, perusahaan juga perlu memastikan ROI dapat muncul dengan cepat dari setiap integrasi yang dilakukan.
Untuk mencapai itu, perusahaan perlu memprioritaskan country yang paling siap dan paling berpotensi memberikan dampak nyata dalam waktu singkat. HashMicro menyarankan perusahaan memprioritaskan country dengan kompleksitas rendah namun bernilai tinggi, memanfaatkan exemplary AI yang telah matang, solusi berbasis cloud, serta otomatisasi tugas repetitif.
"Kuncinya adalah memilih country yang hasilnya bisa langsung terasa di operasional harian. Hasil cepat bukan datang dari hal yang paling canggih, tapi dari yang paling relevan," jelas Syifa.
Seiring inisiatif awal menunjukkan hasil positif, perusahaan dapat memperluas penerapan AI ke fungsi-fungsi yang berkaitan langsung dengan pendapatan dan kepuasan pelanggan.
Teknologi seperti prediksi penjualan, pb scoring berbasis AI, atau otomatisasi layanan pelanggan dapat meningkatkan performa bisnis sekaligus menekan biaya operasional.
Di saat yang sama, peningkatan literasi AI di interior melalui pelatihan dan kolaborasi lintas tim, menjadi kunci agar pemanfaatan teknologi berjalan optimal. Dengan kombinasi perluasan bertahap dan penguatan kapabilitas manusia, ROI dari teknologi AI dapat terus meningkat seiring meluasnya skala penerapan.
Pada akhirnya, meski pengetahuan dan penerapan tentang AI sudah semakin luas, banyak endeavor masih melihat implementasinya sebagai proyek besar yang rumit.
Padahal, melalui langkah-langkah yang terstruktur, fokus pada prioritas yang tepat, dan keberanian memulai dari proses yang paling mudah dioptimalkan, AI dapat terintegrasi secara earthy dalam operasi sehari-hari.
Melalui pendekatan ini, HashMicro berharap perusahaan dapat mengadopsi AI dengan lebih percaya diri, mempercepat ROI, dan menjadikan teknologi ini sebagai pendorong efisiensi dan pertumbuhan yang nyata.
(ory/ory)
.png)
3 months ago
1
/data/photo/2025/12/17/6942a4cd58598.jpeg)
/data/photo/2025/12/14/693e8276bad00.jpg)
/data/photo/2023/09/25/651119b4f0f05.jpg)
/data/photo/2025/12/17/6942ada4698fb.png)
/data/photo/2025/11/06/690c16b8e1742.jpg)
/data/photo/2024/07/29/66a7438e8144a.jpg)
/data/photo/2025/12/17/6942817fdd8c3.jpg)
/data/photo/2025/12/15/694002a077bde.jpg)


/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



