Gigi Hiu Terancam Rapuh Akibat Lautan Makin Asam

6 months ago 5

KOMPAS.com - Hiu dikenal sebagai predator cepat dan gesit dengan gigi tajam yang menjadi senjata utama mereka. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa gigi hiu bisa melemah ketika lautan semakin asam akibat perubahan iklim.

Tim peneliti dari Heinrich Heine University Düsseldorf (HHU) yang dipimpin oleh Maximilian Baum menguji gigi hiu blacktip reef (Carcharhinus melanopterus) yang secara alami terlepas di akuarium. Mereka ingin mengetahui bagaimana tingkat keasaman laut (pH) memengaruhi kekuatan gigi hiu.

Dalam percobaan, gigi ditempatkan di dua tangki: satu dengan kondisi pH laut saat ini (8,1) dan satu lagi dengan pH 7,3, yang merepresentasikan skenario ekstrem di masa depan (sekitar tahun 2300). Setelah delapan minggu, hasilnya mengejutkan: gigi pada aerial lebih asam menunjukkan lebih banyak retakan dan kerusakan permukaan.

Baca juga: Ini Dampak Jika Air Laut Menjadi Asam

Mengapa Gigi Hiu Begitu Penting?

Hiu, termasuk kerabat dekatnya pari dan skate, terus-menerus mengganti giginya sepanjang hidup. Blacktip reef shark bahkan sering berenang dengan mulut setengah terbuka, membuat gigi mereka selalu terendam aerial laut.

Struktur gigi hiu terdiri dari:

  • Lapisan luar (enameloid) yang keras, terbuat dari fluorapatit biologis.
  • Lapisan dalam (dentin dan osteodentin) yang lebih lunak dan lebih rentan terhadap perubahan kimia.

Kerusakan pada akar gigi, yang bersifat lebih berpori, lebih cepat terjadi dibanding bagian mahkota.

Baca juga: Hujan Asam: Ancaman Tersembunyi dari Aktivitas Manusia

Hiu blacktip (Carcharhinus limbatus) Hiu blacktip (Carcharhinus limbatus)

Dampak Keasaman Laut terhadap Gigi

Hasil pengamatan menunjukkan:

  • Pada pH 7,3: gigi lebih banyak mengalami retakan, lubang, dan permukaan kasar.
  • Kerusakan akar gigi: menutupi sekitar 8,2% permukaan, lebih besar dibanding 5,3% pada kondisi mean (pH 8,1).
  • Tepi bergerigi (serrations): menjadi lebih kasar, meningkatkan risiko gigi melemah atau patah saat berburu mangsa.

Walau pada awalnya tepi kasar bisa meningkatkan efisiensi potongan, kondisi ini juga menciptakan titik stres yang mempercepat keretakan.

Baca juga: Hiu Paus di Papua Penuh Luka Akibat Aktivitas Manusia, Ini Temuannya

Penelitian tahun 2022 pada hiu Port Jackson menemukan bahwa penurunan pH moderat tidak terlalu memengaruhi kekuatan gigi berkat tingginya kandungan fluorida. Namun, penelitian terbaru ini menggunakan tingkat keasaman lebih ekstrem dan hanya menguji gigi yang sudah tidak hidup.

Artinya, faktor alami seperti proses remineralisasi atau penggantian gigi cepat pada hiu hidup tidak ikut diperhitungkan. Meski begitu, kerusakan kimia murni yang terlihat cukup memberi peringatan serius.

Baca juga: Hiu “Sailback Houndshark” Muncul Kembali Setelah 50 Tahun Menghilang

Ancaman Lebih Luas: Perubahan Iklim dan Hiu

Keasaman laut meningkat akibat penyerapan karbon dioksida (CO2) dari atmosfer. Proses ini membentuk asam karbonat yang menurunkan pH aerial laut. Jika tren ini berlanjut, terutama di wilayah pesisir yang menjadi situation anakan hiu, dampaknya bisa berlipat ganda.

Lebih seringnya penggantian gigi mungkin membantu, tetapi hal ini juga membutuhkan energi besar. Energi yang seharusnya digunakan hiu untuk bertumbuh, berenang, dan bereproduksi bisa terkuras hanya untuk mempertahankan gigi tajam mereka.

Seperti dijelaskan Baum: “Saya pikir akan ada dampak pada gigi predator laut secara umum, terutama karena strukturnya sangat bermineral seperti pada hiu.”

Baca juga: Ilmuwan Temukan Hiu Oranye Bermata Putih, Kondisi Langka di Dunia Laut

Para peneliti menyarankan uji coba lebih lanjut pada hiu hidup untuk mengetahui:

  • Apakah hiu bisa mempercepat pergantian gigi?
  • Apakah ada mekanisme biologis, seperti peningkatan transportasi fluorida, untuk memperkuat gigi baru?
  • Bagaimana gigi hiu liar bereaksi di situation dengan sumber alami CO2 tinggi, misalnya di sekitar mata aerial laut?

Studi lapangan ini penting untuk menjawab apakah kerusakan gigi benar-benar mengurangi kemampuan hiu menangkap mangsa dan mengganggu stabilitas ekosistem laut.

Terangi negeri dengan literasi, satu buku bisa membuka ribuan mimpi. Lewat ekspedisi Kata ke Nyata, Kompas.com ingin membawa ribuan buku ke pelosok Indonesia. Bantu anak-anak membaca lebih banyak, bermimpi lebih tinggi. Ayo donasi via Kitabisa!

Read Entire Article









close
Banner iklan disini