KLATEN, KOMPAS.com - Honda Jazz GD3 merupakan salah satu mobil idaman oleh banyak orang, khususnya kalangan muda. Desain yang sporty membuat mobil ini memiliki daya tarik tersendiri.
Terlepas dari itu, merawat hatchback ini tidaklah seindah dengan apa yang banyak dibayangkan orang. Pasalnya, kini Jazz GD3 bukan lagi mobil muda, melainkan sudah menjadi mobil tua yang berpotensi mengalami kerusakan.
Jazz generasi pertama hadir dengan kode bodi GD3 tersedia dalam dua pilihan mesin di Indonesia yakni Intelligent Dual & Sequential Ignition (i-DSI) dan tipe mesin Variable Valve Timing & Lift Electronic Control (VTEC).
Baca juga: Daftar Harga Mobil Hatchback Bekas, Ada Honda Jazz di Bawah Rp100 Juta
Model VTEC merupakan tipe tertinggi. Mesin tersebut menghasilkan tenaga sebesar 110 Tk pada putaran mesin 5.800 rpm, dan torsi maksimum sebesar 143 Nm pada putaran 4.800 rpm.
Sedangkan teknologi versi i-DSI tenaganya hanya sebesar 87 dk pada putaran mesin 5.500 rpm, serta torsi maksimal mencapai 128 Nm pada putaran mesin 2.700 rpm.
Kedua mesin ini memiliki dua pilihan sistem transmisi, yakni manual dengan 5 percepatan, dan CVT dengan 7 percepatan.
Udin (38) seorang guru di Klaten, pemilik Honda Jazz GD3 VTEC MT 2008, menceritakan pengalamannya ketika telah berhasil meminang salah satu mobil impiannya tersebut, tepatnya sejak setahun yang lalu (2024).
Baca juga: Honda Jazz vs Toyota Yaris: Persaingan Hatchback Terpanas di Indonesia
Kompas.com/Erwin Setiawan Jazz GD3 milik Udin di Klaten
“Sudah setahun merawat mobil ini, jadi meski generasi pertama dia menjadi keluaran akhir di 2007, surat-suratnya 2008, saya pilih GD3 karena suka desainnya, beda dari yang lain,” ucap Udin kepada Kompas.com, saat ditemui di Klaten, Kamis (18/9/2025).
Kekurangan
Udin mengaku sempat terkejut dengan kondisi portion yang dibelinya tersebut, pasalnya beberapa kali sempat mengalami overheating saat dalam perjalanan.
“Saat membeli mobil ini saya tidak mengajak tim ahli untuk menginspeksi, jadinya ada saja masalah yang terjadi selama satu tahun terakhir ini, yang paling parah saat overheating, karena perbaikannya tidak cukup sekali,” ucap Udin.
Baca juga: Curhat Pemilik Toyota Veloz: Kelebihan dan Kekurangan yang Dirasakan
Kompas.com/Erwin Setiawan Mesin 1.500 cc 4 silinder VTEC pada Jazz GD3
Udin mengaku kecewa dengan desain lampu indikator suhu mesin yang ada pada Jazz GD3, karena bukan berupa dial yang menginfokan kenaikan suhu secara bertahap dari dingin, mean sampai panas berlebih.
“Tahu-tahu lampu indikator menyala warna merah, dan kondisi tersebut mesin sudah jebol, pernah di lain kesempatan mesin sudah overheating, aerial radiator mendidih, tapi indikator belum menyala, untungnya kondisi pas parkir, jadi tak sampai harus turun mesin,” ucap Udin.
Selain itu, berhubung Jazz GD3 sudah dilengkapi teknologi injeksi VTEC, banyak komponen elektronik yang sudah mengalami kerusakan seperti throttle presumption sensor (TPS), idle velocity power (ISC), oxygen sensor, coil pengapian dan lainnya.
Baca juga: Plus Minus Pakai Daihatsu Xenia dari Kacamata Pengguna
“Genuine Partnya kan mahal, contoh TPS itu Rp 4 jutaan, aftermarket banyak mulai Rp 150.000 sampai Rp 500.000, cuma kualitasnya belum tentu baik, jadi masih harus coba-coba dulu,” ucap Udin.
Kelebihan
Terlepas dari problematik mobil tua, Udin mengaku puas dengan kenyamanan Jazz GD3. Pasalnya, untuk mobil perkotaan yang memiliki dimensi kecil, suspensinya nyaman.
.png)
6 months ago
2
/data/photo/2025/12/17/6942a4cd58598.jpeg)
/data/photo/2025/12/14/693e8276bad00.jpg)
/data/photo/2023/09/25/651119b4f0f05.jpg)
/data/photo/2025/12/17/6942ada4698fb.png)
/data/photo/2025/11/06/690c16b8e1742.jpg)
/data/photo/2024/07/29/66a7438e8144a.jpg)
/data/photo/2025/12/17/6942817fdd8c3.jpg)
/data/photo/2025/12/15/694002a077bde.jpg)


/data/photo/2025/08/25/68abe52811277.jpeg)



