Bintang “Paling Murni” di Alam Semesta Ditemukan di Tepi Bima Sakti

5 months ago 2

KOMPAS.com - Para astronom baru saja menemukan sebuah bintang luar biasa di tepi Galaksi Bima Sakti — sebuah raksasa merah bernama SDSS J0715-7334 yang dijuluki sebagai bintang “paling murni” yang pernah ditemukan. Bintang ini memiliki kadar logam terendah yang pernah tercatat, menjadikannya kandidat kuat sebagai keturunan langsung dari bintang-bintang pertama di alam semesta.

Semua bintang bersinar karena proses fusi nuklir, yakni penggabungan atom-atom ringan seperti hidrogen menjadi unsur yang lebih berat seperti helium. Proses ini menghasilkan energi besar yang membuat bintang bercahaya. Dalam inti bintang juga terbentuk unsur lain seperti karbon, oksigen, dan besi — unsur logam paling melimpah di bintang.

Namun, tidak semua bintang mengandung unsur berat dalam kadar yang sama. Beberapa bintang memiliki kandungan logam (metallicity) yang sangat rendah. Bintang seperti ini disebut “pristine” atau murni, dan sangat dicari oleh astronom karena diyakini menyerupai bintang generasi pertama alam semesta, yang terbentuk dari state hidrogen sisa Ledakan Besar (Big Bang).

Baca juga: JWST Temukan Jejak Galaksi Paling Murni di Alam Semesta?

Penemuan Bintang Paling Miskin Logam

Dalam studi yang diunggah ke server pra-publikasi arXiv pada 25 September, tim peneliti melaporkan penemuan SDSS J0715-7334 melalui programme MINESweeper yang menganalisis information dari teleskop luar angkasa Gaia milik Badan Antariksa Eropa (ESA).

Hasil analisis spektrografi menunjukkan bahwa bintang ini memiliki kandungan logam paling sedikit dibandingkan bintang mana pun yang pernah ditemukan — bahkan dua kali lebih “murni” dari rekor sebelumnya, dan memiliki kadar besi 10 kali lebih rendah dari bintang termiskin logam yang diketahui hingga kini.

Dengan ukuran sekitar 30 kali lebih besar dari Matahari, J0715-7334 menjadi raksasa merah yang unik sekaligus misterius di antara bintang-bintang lainnya.

Baca juga: Mengapa Matahari Kita Lebih Tenang dari Bintang Lain?

J0715-7334 kemungkinan berasal dari wilayah pembentukan bintang di dalam Awan Magellan Besar. NASA, ESA, dan Martino Romaniello (European Southern Observatory, Jerman) J0715-7334 kemungkinan berasal dari wilayah pembentukan bintang di dalam Awan Magellan Besar.

Asal Usul dari Galaksi Tetangga

Para peneliti memperkirakan bahwa J0715-7334 berjarak sekitar 85.000 tahun cahaya dari Bumi. Walau masih berada di dalam Bima Sakti, analisis pergerakannya menunjukkan bahwa bintang ini kemungkinan berasal dari Awan Magellan Besar (Large Magellanic Cloud) — sebuah galaksi kerdil berisi sekitar 30 miliar bintang yang mengorbit dekat Bima Sakti — sebelum akhirnya “terhisap” masuk ke galaksi kita.

Yang membuat J0715-7334 semakin menarik adalah kadar karbonnya yang juga sangat rendah. Umumnya, bintang-bintang miskin besi memiliki kadar karbon tinggi, yang membuat full “metallicity”-nya tetap tinggi. Namun, J0715-7334 berbeda: rendah karbon sekaligus rendah besi, menjadikannya bintang dengan metallicity terendah sepanjang sejarah observasi.

Kondisi ekstrem ini mengindikasikan bahwa bintang tersebut mungkin terbentuk langsung dari state hidrogen purba sisa Big Bang, tanpa terpengaruh worldly dari generasi bintang sebelumnya. Artinya, J0715-7334 bisa menjadi “keturunan langsung” dari bintang generasi pertama, membuka jendela baru untuk mempelajari asal-usul bintang dan evolusi awal alam semesta.

Baca juga: Bintang Pertama di Alam Semesta Miskin Logam, Astronom Temukan Buktinya

Menentang Aturan Pembentukan Bintang

Penemuan ini juga mengguncang teori yang ada. Menurut konsep “fine operation cooling threshold”, diperlukan jumlah minimum unsur berat agar awan state panas bisa mendingin dan membentuk bintang. Tanpa logam yang cukup, state tidak dapat kehilangan panas secara efisien untuk mengerut dan menyala menjadi bintang.

Namun, J0715-7334 jelas menentang aturan ini. Dengan kadar logam yang hampir nol, bintang ini seharusnya tidak bisa terbentuk sama sekali. Para peneliti menduga bahwa debu kosmik — sisa-sisa bintang dan satellite mati — mungkin berperan penting dalam proses pendinginan state yang memungkinkan kelahiran bintang ekstrem ini.

SDSS J0715-7334 bukan hanya sekadar rekor baru dalam dunia astronomi, tetapi juga petunjuk nyata tentang bagaimana bintang-bintang pertama di alam semesta mungkin terbentuk. Melalui bintang ini, para ilmuwan berharap dapat memahami lebih dalam tentang masa-masa awal setelah Big Bang, ketika cahaya pertama mulai menerangi kegelapan kosmos.

Baca juga: Sinyal Lemah dari Awal Semesta Ungkap Bintang Pertama yang Pernah Ada

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

Read Entire Article









close
Banner iklan disini